Sabtu sore kemaren aku ke basecamp relawan. Aku mau kasih beberapa laporan keuangan dari donator ke temenku. Temen-temenku nggetih banget jadi relawan. Hebat deh mereka semua. Pemuda-pemudi harapan bangsa.(sebagai relawan abal-abal aku tidak termasuk didalamnya hahaha) Sampe di basecamp ternyata mereka pada siap-siap ke Candirejo magelang.
Aku memang tertarik ikut, sebelumnya temen-temen udah kasih kabar soal gugur gunung hari minggu. Tapi aku gak tahu kalo berangkatnya sore itu. gak siap-siap mau menginap je. Singkat cerita, aku ikut ke magelang. Sebagian naek mobil, lainnya naek motor. Yay, mari menuju magelang. Aku sih bimbang gitu, nginep gak, nginep gak, nginep gak.....
Candirejo
candirejo nih
Desa di negara dunia ketiga(dan sebagian negara bukan ketiga) memiliki karakteristik agraris. Aku tidak akan membahas tentang karakteristik desa menurut para ahli dan teoritisi. Begini, kamu juga pasti udah pernah ke desa. Kemudian ke desa banget. Trus ke desa banget banget. Kategori desa Candirejo adalah desa banget. Belum masuk kategori desa banget banget. Bingung? Hahahaha sudahlah. *can you help me for explain diz?*
Kami langsung menuju posko Candirejo. Rumahnya mantan kepala desa. Lapang, bisa dibuat main badminton deh.(info: menurut salah satu temenku, rumah itu bekas gudang tembakau. Sohibul hikayah bilang kalau sebagian warga desa yg punya lahan menanami tembakau.) Asik deh rumahnya. Aku pengen punya rumah begitu. Biar bisa nampung banyak orang; sodara-sodara dan temen-teman. Ayoo, nanti kalo aku punya rumah, kalian maen ke rumahku ya. Boleh menjadi tamuku, semuanya! Nanti cerita-cerita dan kubuatkan minuman hangat...Eh tapi kapan ya? Hahahaha ngayal plus berdoa ceritanya.
Kembali ke posko Candirejo. Rumah itu tersedia televisi yang malem itu membuat kami terhipnotis. Hah? Iya ada pertandingan penting. Atas nama pemuda bangsa bersemangat dan suka bekerja keras, kami perlu terlibat dalam isu dukung mendukung tim sepakbola nasional. Indonesia vs Laos. Eh salah ding, Irfan Bachdim vs laos (wuakakakakaka, dear Warda :-)!)
Aku langsung terpaku di depan televisi. Kami ribut di depan tv(ada yang ribut karena jadi suporter. Ada yang ribut ngobrol-ngobrol). Itu semua membuatku kehilangan kebimbangan, langsung kuputuskan; aku mau nginep aja. Nanti kalo ikut pulang, kelewatan tontonan je. Ah mantap dah. Busyeet, gila mereka pada mabok atau gimana ya; 6:0. Hehehe tumben menang. Yaelaaaah, menang dibilangin tumben . Kalah dihujat-hujat. Susaah jadi pahlawan jaman sekarang! Whatever, Gudjob buat timnas deh pokoknya ^^b.........
Setelah makan penyetan pinggir jalan di sekitar candi mendut, kami langsung menuju rumah si kembar A.K.A Ayu-Ajeng. Malem itu kami, cewek-cewek ber 6, nginep di rumah kembar. Cowok-cowok nginep di posko Candirejo. (mari kuabsen, Ayu-ajeng, Ve, Hai, Siwar, Gesang, Jack, Ujang, Roni, Fatur, Bowie, Wilfried, Dimas, dll semoga gak ada yang ketinggalan disebut). Btw, lumayan teler aku. Entah kenapa, padahal aku gak ngapa-ngapain. Cuma datang di basecamp sore tadi, hahahihi sebentar trus pergi ke Magelang. Teriak-teriak dikit jadi supporter timnas di basecamp Candirejo. Udah, gitu thok. Tapi rasanya energiku menguap.
Kami dipecah menjadi tiga kamar. Aku kebagian tidur dengan Ayu. Siwar sama Hai. Ve sama Ajeng. Walo ngantuk aku gak bisa tidur, Ayu masih ngerjain tugas. Ajeng mondar-mandir masuk kamarku, kemudian kucegat. Sini, temenin tidur. Mulailah, ajeng sambil tiduran bercerita. Kemudian tidak lama, bergabunglah Ayu. Kami cerita-cerita, terkuaklah rahasia si Kembar. Hua hua hua, cerita gak. Cerita gak, cerita gak. Ummm, gak aja deh. Ntar bisa digorok aku sama si Kembar! hehehe...
Eng ing eng, singkat cerita, tiba-tiba udah pagi. Aku nyetel alarm jam lima. Walo ogah-ogahan mandi, kami tetep musti mandi pagi. Soale ada rencana harus ke pasar. Membeli sayur mayur, masak buat temen-temen yang di posko. Trus acara gugur gunung dimulai jam delapan. Huru hara pagi hari dimulai. Mulai siapa yang duluan mandi sampe ribut sarapan dulu ato mandi dulu. Hahahaha kehebohan garing.
Ayu dijemput Bowie, anak2 di posko udah harus dibelikan makanan. Mereka dibelikan lauk pauk jadi aja, katanya. Aku dan temen-temen lain bertugas membelikan sayur mayur mentah di pasar agar bisa diolah oleh temen-temen yang live in nanti malam dan besok. Kayak kemah yak? Sekitar jam 8 kami baru ke pasar, yaaah padahal rencananya jam 6 lho wakakakaa teori doang. Disangoni 50ribu sama ayu. Pesennya begini: Belanja untuk duahari ya. Lebih bagus lagi ada susuknya. 50rb gak dibelanjain semua.
Izzah said; oke, siap.
Kami berenam sampe di pasar. Hai yang nyetir. Berpandangan, siapa yang pinter nawar? Kami semua saling tunjuk dengan muka, menggeleng semua. Yawda cuma belanja ini, ayo semangat. Bawang merah, wortel, jamur, tempe, tahu, telur, toge, buncis, jagung kecil, lombok, tomat, kopi bubuk, kerupuk. Walhasil, duitnya habis. Pake nombok pula. 50ribu harus susuk cuma rencana. Aku mau bilang ke semua orang pembaca blog ini, huhuhu belanja itu susah juga ya. Pusing aku. Jadi berasa terlibat dengan aspirasi ibu-ibu kenapa jadi frustasi kalo kebutuhan pokok melonjak naik. Hahahaha.....apaaan ni.
Kami segera naik ke posko setelah belanja. Posko sepi. Temen-temen cowok udah naik ke tempat gugur gunung. Kami nunggu jemputan beberapa waktu. Ternyata gak semua turun jemput, Cuma 4 motor. Padahal kami ada 6 biji begini. Dua motor cenglu. Naik naik ke puncak menoreh.....jalannya gak rata karena emang konturnya berbukit-bukit. Sepanjang jalan terlihat Sungai Progo berwarna coklat dan sedimen-sedimen pasir dipinggir-pinggirnya. Sawah-sawah. Kelapa-kelapa yang berbentuk aneh karena letusan merapi, menyisir sungai. Hijau sepanjang sungai coklat, bisa dilihat dari jalan-jalan di atasnya.
Aku dibesarkan dalam kultur agraris. Tapi ijo-ijo mengitari sungai kayak gini tetep membuatku romantis.
Gugur Gunung
Sampe lokasi, kerja bakti udah mulai. Kami segera bergabung, mengambil kerjaan sisa. Kerjabakti tidak serame yang kubayangkan. Warga yang ikut berisi orang-orang tua dan ibu-ibu muda. Pria-pria tua, embah-embah putri yang juga udah sepuh, ibu-ibu muda yang membiarkan anak-anaknya berkeliaran bermain-main disekitar kerjabakti. Yang muda pada kemana? Kata beberapa warga disekitarku, pria muda yang sudah menikah mereka banyak yang bekerja ke kota. Mengerjakan proyek bangunan dan jadi satpam. Wanita-wanita muda ikut bersama suaminya setelah menikah. Pemuda-pemudi lajangnya ada yang bekerja dan sekolah di kota. Aku tidak menemukan peserta kerjabakti yang masih lajang kecuali tim kami.
Tak kirain bersih desa dari abu merapi, ternyata bikin jalur yang dicor buat warga. Ada yang mengoperasikan molen; alat pencampur material. Menata ukuran jalan dengan papan yang telah diukur panjang lebar dan tigginya, sesuai perhitungan luas jalan. Mencangkul batu koral. Mencangkul pasir. Untuk ditaruh di wadah-wadah. Mengangkut material yang sudah tercampur berantai. Nah yang terakhir itu tugasku.
Pekerja kasar tidak terampil hahaaaha....lha Cuma itu yang kubisa. Aku bertugas mengangkut material dalam ember yang sudah tercampur berantai bersama ibu-ibu dan simbah-simbah perempuan. Pekerjaan yang memerlukan keterampilan dikerjakan oleh para lelaki: mengoperasikan molen dan mengukur serta menata papan sebagai ukuran batas luas jalan yang mau dicor. Ada teknik-tekniknya pasti.
ini jalan yang sudah jadi. maksudnya aku mau cerita kayak gini hehehehe
Mereka membuat tinggi papan untuk tebal jalan, 10 centimeter. Lebarnya 75 centimeter. Disisi kanan dan kiri. Jalan yang dicor terbagi ke sisi kanan dan kiri. Tegahnya kosong. Enggak dicor untuk ngirit material. Lebar jalan sebenarnya 225 centimeter. Pinggir masing-masing sisinya ada cor-coran selebar 75 centimeter yang kuceritakan tadi. Pokoknya muat buat jalan truk, kata bapak-bapak yang sedang memaku papan batas itu.
Jalan yang dicor sangat penting bagi warga. Untuk jalur transportasi ke wilayah yang lebih pelosok. Dalam konteks bencana merapi penting sekali, sebagai sarana evakuasi. Sebelum dicor seperti itu, tanah-tanah disana licin dan becek kalo hujan. Terjal dan berbatu dalam keadaan kering. Padahal jelas-jelas kontur tanah disana tidak rata. Pasti menyusahkan pengguna jalan. Beberapa bapak yang sudah kelihatan sepuh sambil menghisap rokok kretek dan ngobrol-ngobrol santai bertugas membuat batas-batas cor itu. Mungkin teknik itu juga diperoleh tanpa sekolah. Yaelah zaaah, itu kan keterampilan praktis. Bisa dipelajari dengan tradisi. Gak harus sekolah jadi sarjana teknik sipil duluan.hahahahaha....otakku udah berimajinasi yang aneh-aneh ni.
Oh iya, aku mau cerita peristiwa yang memalukan. Jadi seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku dan beberapa temen yang tidak punya keterampilan. Kerjaannya angkut-angkut berantai ember berisi material cor yang udah dicampur. Berat ternyata, hiks. Apalagi kalo ember penuh, kami berantai bersama ibu-ibu muda dan simbah-simbah yang sudah sepuh.
”waii, wilfried bilangin jangan terlalu penuh di ember. Berat tahu, kasihan ni embah-embah” kata kami cewek-cewek.
Wilfried segera menyambungkan aspirasi kami ke Fatur. Trus pesan disampaikan ke sebelahnya berantai hingga ujung.
”mboten napa-napa kok jeng. Niki sampun biasa.” kata mbah Dariah yang ada disampingku. Emang sih aku gak lihat mereka mengeluh. Atau bermuka masam. Beda banget dengan kami yang udah mulai ribut terlalu berat, tapi menggunakan alasan kasihan sama embah-embah pula. Hihihi lempar batu sembunyi tangan. Doweweng...malu-maluin.
Alkisah, tanah di desa itu tidak bisa mengeluarkan sumber air dengan gampang. Masang pompa air dirumah-rumah bukan hal yang bisa dipraktikkan disana. Kata pak Sudianto, air-air itu mesti diangkut pakai jerigen air. Yang dipanggul dipunggung oleh para embah-embah dari salah satu mata air di pinggir sungai. Kebetulan belik mata air itu di belakang rumah pak sudianto. Mereka mengangkut air-air itu untuk keperluan masak memasak. Ditampung dalam-bak-bak. Sebagian tidak memiliki jamban, jadi masih ke sungai kegiatan MCKnya.
maksudnya mereka bener-bener udah biasa ngangkut yang berat-berat. mbah dariah gak sedang mengada-ada ato gak enak hati sama kami. mereka benar-benar terbiasa kuat.
Sedangkan kami, esok paginya bangun tidur, ketika udah nyampe Jogja. huhuhu sakit semua badanku. remuk semua kayak peyek keinjek. Tanganku, punggungku aduuh, pemuda harapan bangsa apaan. Huwaaaaa, memble gini....
To be continued!
Recent Comments