Kasus monas 1 juni, menimbulkan banyak reaksi. Bentrokan antara FPI dengan AKKBB, menimbulkan beberapa orang luka. Isu yang dimunculkan adalah ahmadiyah. Walau menurut versi FPI, penyerangan akibat provokasi AKKBB yang menyatakan FPI adalah Laskar setan. Ah, tapi dengan provokasi itu atau tidak, kita raba dengan mata tertutup juga terasa percikan konfliknya. Apalagi membawa isu ahmadiyah, yang masih mengambang.
Aku tidak ingin membuat link dengan media yang memuat berita tentang peristiwa ini. Soale, pemberitaan di media sangat jelas sisi mana yang ingin dibela. Bandingkan pemberitaan, kompas, tempo, suara hidayatullah dan detik. Entahlah mungkin sebagian media sudah mengucapkan: go to hell, cover both side...
Tidak ada yang lebih menarik dari kasus itu, kecuali reaksi orang-orang terdekat yang kita kenal. Semuanya jadi lokal dan personal.
Ada beragam reaksi teman-teman dan orang dekat atas kasus monas. Menurutku ini seru sekali. Ini seru-seruan aja lho, tidak bermaksud menyinggung amarah berlandaskan SARA. Apalagi menimbulkan hasrat saling ganyang dan membubarkan hihihi....
Ada yang membuat seruan: ”Kita jaga kerukunan antar umat beragama. Ayo, Gayang FPI!”. Seruan lewat SMS yang kayaknya disebarkan massal. Hehe lucu kan? Kalimat depan dan belakangnya bertolak belakang. Walaupun satu visi menjaga kerukunan antar umat, tetep aja nalurinya saling ganyang mengganyang.
Ada yang bertanya(dan kupikir itu semacam afirmasi), ”gimana ini? Massa NU memanas....” Walau kemarin aku tidak sempat balas sms temen ini, aku mau jawab begini: eh, yang memanas itu bukan NU. Tapi Gus Dur (dengan AKKBB) dan PMII yang jualan post tradisionalis islam itu. Dan semuanya sudah pada tahu kalo Gus Dur selalu punya tempat untuk membawa bendera NU. Hehehe Piss...
Trus orang dekatku(sodara, dengan latar belakang tradisionalis islam. Baca:NU totok) berkomentar begini:”Lha saiki sing penting ojo ngafirke wong islam liyane. Nek durung gelem salat yo diajak salat. Ora malah diperangi. Lha nek ahmadiyah kae pancen perkorone serius, soal akidah. Yo rasah di bubarke sampe koyo ngono kisruhe. Tapi organisasi iku kudu siap dilebokke sebagai organisasi non islam...” Artinya: lha sekarang yang penting jangan saling mengkafirkan antar umat islam. Kalau belum mau shalat ya diajak shalat. Jangan malah diperangi. Lha kalau ahmadiyah itu emang perkaranya serius, soal akidah. Yo gak usah dibubarkan sampai kisruh kayak begitu. Tapi organisasi itu harus siap dimasukkan sebagai organisasi non islam...” Nah loo, semakin ribet tho? Aku pikir pendapat ini akan mewakili para nahdliyin(tradisionalis) kebanyakan. Mereka tidak setuju dengan metode kekerasan FPI tapi juga tidak setuju Ahmadiyah sebagai salah satu organisasi islam.
Dalam obrolan santai di kantin fisipol, salah seorang teman membuat pemetaan dengan analisis. FPI adalah bentukan militer. Boneka politik militer, dengan celah agama yang bisa ”dimainkan”. Organisasi itu terbentuk setelah reformasi dan menjalankan kinerja dengan cara-cara militer. Dasar moral militer adalah negara, dasar moral FPI adalah agama. Mereka sama-sama suka menggrebek dan memukul. Perhatikan reaksi dan statemen aparat militer terhadap kasus monas di media-media.
Di lain tempat, ada yang menyangka kalau kerusuhan monas adalah pengalihan isu kenaikan BBM. Supaya masyarakat tersedot pada isu bentrokan itu, dan tidak memusingkan naiknya BBM.
Siang ini, Metro Realitas mengidentifikasi FPI sebagai gerakan tradisionalis islam(tidak lupa metro TV menambahkan keterangan dalam kurung yang tertulis: seperti nahdlatul ulama/NU). FPI terbentuk pada tahun 1998. Gerakan dengan visi menegakkan moral agama. Salah satu pendirinya adalah orang yang paling sering disebut di banyak media akhir-akhir ini, Habieb(gelar untuk laki-laki keturunan Muhammad SAW. yang berarti orang yang dicintai) Rizieq Syihab.
Terlepas dari isu konspirasi, pemetaan gerakan politik, pengalihan isu atau apapun, aku mau mengakui kalau sejarah agama-agama selalu gampang disulut. Isu yang paling gampang dipolitisir. Mereka mengepalkan tangan meneriakkan kalimat suci(masing-masing). Mereka bertindak dengan prosedur-prosedur yang bisa menerabas catatan hukum di negara manapun.
Dalam pernyataan yang berapi-api Rizieq Syihab berseru: "Saya bersumpah demi Allah. Saya lebih baik dipenjara atau dibunuh daripada FPI dibubarkan!"
Gus Dur diwaktu sebelumnya, telah menyatakan usahanya untuk membubarkan FPI.Aku merinding. Nyeri.
Agama memiliki banyak dalil cinta kasih. Sayangnya, agama selalu punya legitimasi untuk menumpahkan darah. Benar-benar bahasan klise(klasik).
Aku yakin, pasti bukan hanya aku yang memiliki proses dan pengalaman beragama. Meski akan sangat beragam penafsiran dan pengungkapannya. Aku telah memutuskan untuk terus berikhtiar (manis sekali bukan?). Menggunakan rasio, demi menggempur kejumudan. Toh(harus kuakui) pada kenyataannya, pikiran-pikiran tidak terletak pada kendali indera dan rasio(Kendali dalam ukuran-ukuran otak kiri itu) semata.. Ada yang namanya teologi(aku menyebutnya iman). Juga mitologi yang tidak ingin kuingat-ingat tapi selalu tertinggal dalam ingatan, mitos tentang kesalehan. Belum lagi impian tentang kebenaran, beberapa orang menyebutnya etika. Aku sering jatuh tertelungkup. Ke dalam ruang-ruang dimana aku menghambakan diri pada keintiman dan hasrat-hasrat. Dan perjanjian tanpa ikrar yang tidak tahu kapan dimulainya....
Recent Comments