Senin pagi jam 07.30, Norma sms kalau sudah ada di depan kosku. Kami akan ke UC ada ulang tahun Pak Nasikun. Pak Nasikun adalah guru hampir semua orang yang belajar sosiologi di UGM hingga tahun 2005. Kemudian beliau sakit di tahun 2006 hingga sekarang. Karya beliau yang terkenal adalah Sistem Sosial Indonesia. Aku tiga kali ke rumah beliau, kesan: beliau selalu menempatkan orang yang diajak ngobrol setara. Misal, disalah satu pertemuan, beliau waktu itu membicarakan tentang E. F. Schumacher, itu lhoo yang bukunya Small is Beautiful(ekonom inggris yang mengkritik ekonomi barat terutama soal krisis energi dan globalisasi). Aku tidak tahu banyak tentang Scumacher tapi beliau tidak frustasi atau mutung menghentikan pembicaraan. Malah kemudian beliau bercerita tentang E.F. Schumacher lewat contoh-contoh yang lebih ringan dalam konteks yang kami bicarakan sebelumnya. Aku belum pernah bertemu dengan guru seperti beliau sampai sekarang. Setelah pulang dari rumah beliau, aku langsung mencari buku E.F Schumacher :P. Jadi malu. Hari ini ulang tahun beliau dimajukan dari tanggal sebenarnya 28 Oktober, jadi hari ini 24 Oktober.
Dan pagi ini, Norma naik prameks jam 05.30 dari Solo. hohoho pejuang sejati emang. Padahal acara baru dimulai jam 08.50. Dimulai telat hampir satu jam dari undangan 08.00. Payah nih. Soalnya nunggu Pak menteri pemuda dan olahraga datang. Katanya, pesawat pak menteri delay. Setelah datang dengan pesona dan kumisnya, pak menteri tetap percaya diri tingkat tinggi: Selalu tersenyum dan bercerita misi-misinya sebagai menteri. Acara ini rangkaian dari peluncuran Youth Summit (semacam pusat studi kajian pemuda, dikelola jurusan) didanai oleh pak menteri :D. Ehem, ya iyalah dia PD banget sodara-sodara xoxoxox...

Awalnya aku dan Norma kepedean duduk deretan kursi nomer 3, ternyata sudah ada tulisan UNDANGAN. Dengan menahan malu aku dan Norma mundur di deretan kursi yang lebih populis. Akhirnya kami duduk dideretan belakang. Duduk di tengah, sampingku mbak-mbak dengan laptop terbuka dan terus memantengi layarnya. Dari aku datang mbak ini terus menulis, setelah duduk aku ngintip apa sih yang sedang ditulis: ternyata dia menulis tentang usaha kecil di Pekalongan. Semacam kredit usaha kecil atau perkembangan usaha gitu dah. Hehe maap ya mbaaak, aku ngintip-ngintip. Penasaran je.
Di tempat acara, UC, kami haha hihi dengan komunitas jurusan dan temen-teman kampus. Aku pulang lebih dulu, sebelum acara selesai. Aku menuju kantor. Kalian belum kuceritakan tentang kantor baruku? Soal kantor baru banyak dan panjang banget kisahnya.
Aku sampe kantor jam setengah sebelas, tadi udah minta ijin kalo sedang ikut ultah Pak Nas di UC. setelah ngobrol-ngobrol dengan temen di kantor jam menunjukkan jam 12. Hah, cepet banget. tiba-tiba aku di telpon Mba Lisa, hari ini kan ada janjian makan siang dengan temen-temen kantor lama.
Undangan disebar lewat SMS, semalem. Kami makan siang di Bumbu Desa, Sagan. Oke. Aku kesana, sudah pada dateng semua, termasuk, si Boss, Mba lisa, Mas tri, Mas Idris dan Mas Danang. Juga Norma dateng bareng aku.
Kami ngobrol sangat garing. Oh maksudnya kurang menggairahkan. Bukan ummm kami membicarakan politik sampai Marco Simoncelli. Topik-topik yang disuguhkan oleh para jurnalis di media-media Indonesia. Hawa kantor lama, rasanya menyeruak memenuhi perasaan. Fadel Muhammad dipecat bukan lebih tepatnya diberhentikan dari jabatan menteri, konon gerakannya mengungkap skandal ekspor garam. Popularitas Dahlan Iskan yang low profile, bisa jadi boomerang bagi karier politiknya*menurut analisis bosku*. Kalo menurutku, tidak juga.
Oh iya, kami juga membicarakan demonstrasi di wall street. Ahay, bagian ini yang dramatis. Si bosku yang marhaenis ideologinya (tapi pribadinya tidak :D), dengan bersemangat menjelaskan kejatuhan kapitalisme. Mulai kredit macet di USA sampai moneter adalah urusan orang Jakarta yang kehidupannya digerakkan lewat denyut nadi berbelanja. Bukan orang Indonesia secara umum, kata bosku. Aku jadi pusing, bahkan tepung terigu kita impor(ibuku yang jauh di kampung sana menggoreng tempe dengan terigu impor). Kedele juga. Bagaimana gak tersentuh moneter?
"Harusnya kita tidak bodoh, manut-manut saja denga kebijakan AFTA atau berbagai asosiasi perdagangan internasional lainnya," Umm, Bosku adalah orang yang kritis, 64 tahun dan sangat gigih.
Ini adalah obrolan makan siang kami. Aku duduk persis di depan Bosku itu, jadi akulah yang paling punya tanggungjawab mengobrol :D.
Setelah acara makan siang plus perpisahan kantor lama, aku segera balik. Pamit-pamit dan mengucapkan perpisahan. Daaaaaghh...
Hingga sore aku di kantor, sebenarnya aku tidak mengerjakan apapun. Semacam observasi awal karena masih unyu-unyu.
Aku nyampe kos jam 5. Beberapa menit kemudian Puri sms. Katanya dia sudah dijogja. Trus ngajakin ketemu dia Cafe Peacock. Katanya di dekat dalem sunarti di daerah JL AM Sangaji. Waktu itu aku langsung berangkat, tidak ganti baju atau yang lain. Aku menyetop Bis Pemuda D5, nanti turun perempatan Jetis. Ternyata di tengah jalan aku baru sadar, dompetku ga ada duit cash sama sekali. aku mengeluarkan tiap slipnya aku hanya menemukan kartu-kartu: kartu perpus, kartu periksa, kartu nama, KTP dsb dsb. Hwaduw.
"Pak pak saya turun sini saja" aku minta diturunkan disana saja."maaf pak, ternyata saya tidak punya uang untuk bayar.maaf ya pak" *wajahinnocent*
"Iya mbak...." pak sopirnya malah ketawa-tawa. Aku maluuuuuuu setengah mampus.
Aku turun di depan kantor PKPU trus jalan ke arah JL AM Sangaji. Untung ini Jogjakarta, aku masih bisa berjalan kaki. Aku jalan terus hingga bingung, dimana tepatnya. Aku bertanya pada salah satu tukang parkir di pinggir jalan. Pak tukang parkir itu bingung. Malah balik bertanya, yang benar JL AM Sangaji?
Iya kataku. Aku menjelaskan sebuah kafe tempat minum kopi dan nongkrong.
Bapaknya tepok jidat. Dia ngasih petunjuk rumah kosong persis di depan Papa Ron's Pizza.
Udah tutup mbak, malah ada tulisan mau dijual.
Jadi, cafee Peacock sudah tutup. 
Aku nyampai disana emang sudah tutup. Tempatnya berpagar merah dan kelihatan bekas-bekas interior artistik di halaman rumah. Tapi...Puri belum datang.
Aku telpon Puri, wai Cafe peacock telah tutup. Setelah ketawa-tawa sontoloyo, kami memutuskan tetap janjian di sana.
Ehem, JL AM Sangaji adalah wilayah kekuasaanku. Terutama awal-awal kepindahanku dari Pesantren Krapyak ke kota. Kos-kosan yang lebih terjangkau dengan kampus, dulu aku ngekos di daerah cemoro jajar: JL Trimargo lokasinya sangat dekat dengan JL AM Sangaji.
Aku jadi nostalgia, dulu di deket gereja ada yang jualan serabi enak. Aku berjalan kesana. Huwaa pasar Kranggan, aku berjalan menuju sana, banyak banget yang jualan sore-sore. Biasanya Jalan Pasar Kranggan juga rame, ada penjual tahu-tempe, buah-buahan, sayur mayur, ikan kranjang dsb dsb(dear sobatku, Dinar darundini Amrita Hati, are u remember about pasar Kranggan? :P) Aku jalan di trotoar JL AM Sangaji, sebelah kanan. Trotoar itu berjejer-jejer lapak penjual bunga dan menyan. Berjalan disana berasa bau bunga. Emang tercium bau bau bunga buat nyekar.
Hingga disalah satu pojokan, aku melihat keramaian. Persisnya seberang jalan dengan Gereja JL AM Sangaji, ada mobil-mobil parkir, motor-motor, orang-orang berdiri berkerumun. 
Ada apa?

Aku melongok dibalik keramaian. Ternyata ada embah-embah duduk ndeprok di bawah, dihadapannya ada tiga baskom besar ditutupi daun pisang. Masing-masing baskom ditutupi lengser atau tampah berisi Cenil, Gatot dan Tiwul.
Ketiganya adalah jajan pasar tradisional yang legendaris, disajikan dengan kelapa parut dan berbahan dasar dari singkong jadi punya kecenderungan lengket. Cenil itu warna-warni transparan didominasi warna pink. Gatot berwarna coklat, terbuat dari singkong yang dikeringkan dan berjamur, kemudian di kukus. Tiwul juga berwarna coklat terbuat dari singkong, dijemur sebelumnya kemudian ditumbuk(dihaluskan). Beberapa menjadikan tiwul sebagai bahan pokok makanan, pengganti nasi. Tapi kalau tiwul yang dijual sekarang rasanya manis, dimakan dengan kelapa dan taburan gula jawa saat mengukus.
Oh ini menarik sekali. Aku terhenti di kerumunan itu. Kemudian ikutan membeli berdiri berjajar bersama orang-orang yang mengantre.
Yaelah, tiga bungkus. Masing-masingnya satu bungkus: Satu bungkus Cenil, satu bungkus gatot dan satu bungkus tiwul. @2500. Dimasukkan tas kresek hitam, dari perkiraan berat ditanganku bungkusan itu pasti lumayan gede :D... 
Puri belum datang. Aku berjalan mencari serabi nostalgia yang sudah kuceritakan sebelumnya. setelah tengak tengok kanan kiri, aku tetep tidak menemukan lapak serabi. Hingga aku hampir nyampai ujung paling selatan JL AM Sangaji pasar kranggan. Tidak ada lapak serabi yang kucari.
Setelah melewati pasar kranggan dan tidak ketemu, akhirnya aku memutuskan balik saja ke tempat awal janjian kami mau ketemuan: Cafe peacock yang tutup tadi, di depan Paparons Pizza. haha brjalan sore-sore begini banyak sepeda motor berseliweran. Soalnya waktunya pulang kerja.
Ada tukang becak, yang membuntutiku. Mungkin dari tadi dia sudah melihatku berjalan-jalan celingak celinguk.
"Mbak becak mawon nggih? Bade dateng pundi to?"
Aku bilang ke tukang becak, aku memang mau jalan jadi tidak meggunakan becak.
Nyampai di Paparons, mati mak haus sekali rasanya. Tulalit-tulalit, ternyata Puri sms. Dia sudah dipasar kranggan!
Hah? Oke, kamu disitu aja, nanti kita malah tidak ketemu.
Aku balik lagi ke selatan sodara-sodara, menuju Pasar Kranggan. Satu-satunya yang memberatkanku adalah malu terhadap tukang becak :P.
Aku melihat Puri sedang berdiri, memandangi monumen tugu berbaju kuning.
Waiii. Setelah preambule antar teman yang meriah, kami memutuskan untuk ke Kopitiam Oey aja. Tempatnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari JL AM Sangaji ke JL Wolter Monginsidi. Makan malam dan ngobrol adalah pekerjaan yang pas untuk reuni :P
Kami Pulang sekitar jam 10 malam, sebelumnya Puri mampir di mini market. Beli odol dan keripik untuk 4o orang untuk oleh-oleh temenya di hotel. 4 bungkus keripik untuk 40 orang, hehehe masyhgul emang. Gak apa-apa dua potong per orang.
Pulanglah aku, sampai kos. Mandi dan tidur. Jogja dan sekitarnya sangat gerah, panas banget bikin keringatan sepanjang waktu.
Besoknya sudah Selasa. Sangat pagi aku di sms sama Eka. Nanti malam dia akan menjemputku, mamaknya dari Wajo Sulawesi datang ke Jogjakarta. Besok(hari ini) menghadiri wisuda Eka. Owh, tentu saja kataku. Katanya, mamanya membawa kue khas Wajo. Ehem, asyiikkk.
Eka adalah temenku dari Wajo Sulawesi Selatan. Cewek Bugis Wajo asli, walaupun namanya sangat Jawa. Eka Damayanti, tidak tersisa sedikitpun bau bugis dari namanya. Walaupun kalau ketemu akan dilihat tanda-tanda bugisnya: intonasi berbicara, mata yang sipit dan kulitnya yang terang. Soalnya Eka lahir pas tahun 80-an, semua orang di Indonesia kesetrum dengan Jawa. Hingga dari cara penamaan para bayi-bayi mereka juga berbau Jawa. Waktu itu dipercaya bisa memudahkan urusan administrasi si bayi kelak. Aku cerita begitu sama Eka. Hehe dia gak terima. Soalnya sewaktu dia lahir, tantenya yang kasih nama. Pisss :P.
Oh iya selama aku sahabatan dengan Eka, mengalami banyak gelombang pasang surut. Kadang-kadang kami berantem parah. Tapi terkadang kami merencanakan kegiatan bersama-sama. Eka dan aku memiliki sifat yang hampir mirip, terutama sifat straightforward tanpa tedeng aling-aling itu hehe... Bagi orang yang tidak terbiasa, pasti sangat sarkastik.
Singkat cerita(sebenarnya aku sudah ngantuk hihihihihi), ini dia kuenya. 
Kayak lepet: terbuat dari ketan hitam, dibungkus daun, diikat ikat memanjang. Rasanya gurih, cara makannya dicocol dengan abon daging atau abon ikan.
Aku jadi ingat Muhammad Sana yang super duper iseng! Medio survey lalu, dia membawa Lemang: makanan yang rasanya mirip ini dari Malimping. Dear Sana ^^
Whatever, Thanks Ekaaaaaaaaaaaaa :P Met wisuda. Semangat berkobar, 2013 Phd!!!???
Recent Comments