Kemarin sore aku ke shopping, deket taman budaya. Gara-gara temenku mencari buku lawas yang dicari-carinya dari beberapa waktu lalu ga ketemu-ketemu. Makanya dia berinisiatif nyari-nyari di shopping. Hasilnya, setelah keliling dia tetap tidak menemukan buku itu, malahan aku membeli dua buku. Salah satunya ini.
Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan temanku soal Ayu Utami. Mana ngobrolnya itu di depan penjual buku, temanku mengutip pendapat istri Saut Situmorang yang mengatakan bahwa Ayu Utami tidak mewakili gerakan feminisme di Indonesia. Dia hanya mewakili perempuan dari golongan dan kelasnya semata.
(Aku bertanya-tanya: apakah penulis disini selalu dibebani kisah-kisah tentang kemiskinan, agama dan cita-cita berkeliling dunia. Sesuatu yang mencerminkan moral tertentu, kredo epik dan harapan.)
Emangnya laporan penelitian soal gerakan feminisme, hingga harus dituntut mewakili mayoritas tertentu. Sehingga perlu tuntutan tentang siapa berperan apa dan mewakili siapa. Aku menikmati keindahan dari novel karena bahasa bisa menunjukkan jiwa-jiwa lewat narasi. Aku tidak mau membawa isu Ayu Utami ke dalam provokasi feminisme. Atau bagaimana sebaiknya moral dalam karya sastra. Aku menilainya sebagai karya sastra dan bagaimana kemampuan bahasa mengungkapkan jiwa dan perasaan –perasaan manusia. Aku suka Saman.
Temanku mulai membahas soal narasi-narasi “dewasa” dalam novel-novel Ayu Utami. Dia membencandai aku soal beberapa narasi kontroversial soal seks dan perspektif radikalnya soal itu. Itu membuatku malu, apalagi penjual buku ikut-ikutan mendengar dan nimbrung komentar. Membuatku jadi tambah malu dan hanya bereaksi: Asyeeeeeeem.
Bukan itu. Tapi jika kujelaskan saat itu juga pasti aku kelihatan terlalu ngotot. Sehingga terkesan kaku dan tidak bisa membiarkan sedikit saja humor cabul para pria-pria ini berlangsung. Waktu pertamakali membaca Ayu Utami, aku mengenali sisi monster dari dirinya yang juga kumiliki. (aku kesusahan mendeskripsikan, umm kurasa “spiritual” dan kebebasan adalah poinnya)Tidak sama tentunya, apalagi bentuk manifestasinya. Bedaaaaaaaaaaaaaaaaa banget, terutama aku dan Ayu Utami mewakili konteks sosial yang jauh berbeda. Tapi karena Ayu Utami adalah cewek yang terkenal dengan narasi-narasi dewasanya, bikin aku tidak punya kesempatan menjelaskan pendapatku. Dengan menjadi penggemarnya, bukan berarti aku juga sepakat dengan segala perspektif moralnya.
Oh iya, aku juga memuji keberanian dia dalam menulis: mengungkap sesuatu tak kasat mata yang membelenggu jiwa-jiwa.
Secara teknis, tidak susah bagiku menyelesaikan buku ini, Cerita Cinta Enrico. Chapter pendek-pendek, jadinya aku tidak lelah membacanya. Walaupun tetep suka Saman, Cerita Cinta Enrico lebih bisa dinikmati daripada Bilangan Fu. Jika kalian menginginkan aku bercerita tentang novel ini, cerita lewat ngobrol aja ya(hehehehe).
Selamat berakhir pekan!


Recent Comments