Aku Pulang kemarin naik kereta api Jogjakarta-Madiun ekspress sesuai saran mba Naim. Oh iya Norma juga menyarankan hal yang sama. Aku harus mencobanya. Aku keluar kos jam 15.21, mampir dulu ke Mirota, beli carabikang titipan mba Naim. Aku buru-buru menuju Tugu, kalo mepet takut ga kebagian tiket, seringkali antri panjang. Dijadwalnya sih 16.05. Aku segera membeli tiket, alhamdulillah tidak antri seperti yang kubayangkan. Setelah aku dapet tiket, berhenti sebentar di peron, diperiksa dua orang petugas muda kurus-kurus pake seragam batik. Mereka menyuruhku untuk menuju ke sisi kanan stasiun. Jalur 5, katanya.
Ooh oke. Aha, tidak terlalu penuh berjubal stasiun. Aku baru inget kalau sekarang bulan puasa, orang-orang tidak suka bepergian. Aku duduk sebentar dideretan kursi stasiun, memastikan keretaku datang.
Singkat cerita, aku masuk kereta. Kereta sore itu tidak terlalu penuh, uhuy biasanya berjubal aku harus berdiri memipih. Seneng. Tapi aku tetep ngotot memilih tempat duduk yang menghadap depan. Ga mau hadap belakang. Aku bolak balik, yang menghadap depan udah ada isinya semua. Padahal aku pengen duduk sendirian, ngelamun. Melihat jalan-jalan. Sawah-sawah. Rumah-rumah di sekitar rel kereta api. Otakku bernostalgia nih. Tapi apa daya, aku harus menuju salah satu kursi yang sampingnya udah duduk seseorang. Cewek itu berkulit kuning pucat, berpotongan cepak seperti demi moore, matanya terpekur dengan sebuah buku kecil. Aku berdiri terpaku sebentar, berhenti mengamati buku yang dipegangnya. Tulisan kanji dengan gambar-gambar, sepertinya dia sedang membaca map travelling. Kursi dihadapannya kosong, ransel besar teronggok disana.
Aku langsung tahu, dia turis Asia Timur. Kursi sebelahnya masih kosong, tapi ada tas kecil tergeletak.
“excuse me, may I...” kataku
Dia menoleh, sebelum aku menyelesaikan kalimat. Langsung mengerti dan setuju, dengan cekatan memindahkan tas kecilnya dari kursi itu.
“Please..”katanya
Kami saling terbungkuk, menandakan kesopanan. Dia membungkuk. Aku juga. Otakku langsung melayang-layang. Dia orang jepang. Pasti. Pasti. Aku sering melihat di TV, orang Jepang melakukan gerakan itu. Seperti halnya aku, orang Jawa.
Ketika duduk pun kami masih saling senyum. Kalian bisa gak sih ngebayangin adegan ini, kami saling pandang trus kepala kami saling menunduk. Tersenyum. Dan itu artinya kami berdua mengawali pertemuan dengan sopan.
Aku bertanya, hendak kemana. Dia bilang mau ke Surakarta. Terus obrolan dimulai, kami mengalami banyak kendala bahasa. Aku mengeluarkan notesku, untuk menyampaikan beberapa kata yang kami sering saling menggeleng. Entah seberapa keras mengucapkan pronounciation, aku tetep tidak tahu kadang-kadang. Aku memiliki javaneese accent. Dia japaneese accent. Kami berdua medhok. Misalnya saat dia bilang “teacher”. Aku sampe gak tahu, walaupun dia mengulang-ulang kata itu. Dikupingku dia bilang; tici dengan aksen Jepang yang cepat. Jadi aku tetep menggeleng-geleng. Sehingga dia berusaha keras dengan tangannya yang bergerak-gerak, menerangkan ia dalam ruangan, ada murid-murid, dia berdiri disana.
Kemudian aku mengeluarkan notes dan pulpen.
“could u write here..”aku menyerahkan pensil padanya. Kemudian dia menulis: teacher. Oooh, iya. Kata teacher adalah kata pertama yang dia tulis. Kemudian akan ada banyak kata yang tertulis di notesku.
Ternyata dia adalah guru bahasa Jepang di Tokyo. Dia mengajar untuk foreign student. Muridnya banyak dari Singapore, Vietnam, Cambodia, Filipina, dan Korea. Walaupun dengan foreign student dia tetep pake bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar. Sewaktu SMA dia bertekad menjadi Guru, jadi dia melamar kerjaan guru di Tokyo. Setelah menyelesaikan bachelor di bidang antropologi di kota yang sama.
Dia tergila-gila dengan Ruth Benedict sewaktu mahasiswa.
Oh ya?
Iya katanya.
Bisa dimengerti populernya antropolog cantik Amerika itu di Jepang. Mungkin akan setara dengan Clifford Geertz di Indonesia. Dia menulis The Chrysanthemum and the Sword: Patterns of Japaneese Culture yang terkenal. Buku itu menjadi acuan Amerika untuk memahami kebudayaan Jepang, semasa okupasi perang dunia kedua. Bila di sini, aku setarakan dengan Religion of Java ala Geertz deh. Kemudian aku juga bercerita kalau di Indonesia Clifford Geertz lebih populer. Geertz menulis tentang agama Jawa dan sabung ayam di Bali.
“In Bali?”
Iyaa... disana dia menulis tentang sabung ayam orang-orang Bali.
“please tell me about Bali and the cockfight...”
Aku tidak siap menerima todongan bercerita tiba-tiba. Aku sempat menatapnya sejenak, ummm kemudian ohh oke i’ll try buddy. Bagi para turis, Bali adalah pulau paling populer di Indonesia, berada di sebelah timur pulau Jawa. Kemudian dia mengeluarkan Map travelling dari dalam tas coklat kecil, menunjukan padaku petanya. Dia menunjuk dengan tepat pulau Bali berada. Aku mengangguk. Banyak pantai disana, pantai yang kamu bisa berenang dan bermain dengan air-airnya.
Bukan hanya karena memiliki keindahan alam, Bali juga memiliki kekayaan budaya. Yang bagi sebagian besar orang eksotik. Kami orang Indonesia, seperti yang kamu tahu mayoritas penduduknya muslim. Banyak pengeras suara saat puasa adalah bukti yang bisa dirasakan. Di Bali orang-orang beragama Hindu. Mereka beribadah di pura. Ada banyak bunga sebagai persembahan untuk para dewa ditaruh dimana-mana. Di pasar, jalan-jalan penting, terminal dsb dsb. Ada banyak upacara juga di sana. Nah salah satunya, Chockfight. Sabung ayam itu sebagai salah satu upacara selepas pindahan rumah. Jika ada warga memiliki rumah baru maka ada upacara atau pesta-pesta. Salah satu bentuknya ya sabung ayam ini. Awalnya dia bentuk dari upacara, lama-lama dilanggengkan, karena sebenarnya mereka berjudi. Hehehe..begitu.
“Yeah, kamu sedang di Indonesia. Apa kamu tidak pengen ke Bali?”
Dia mengangguk.
“I will..so i’m so interesting with ur story ”
“Apa rencanamu selama di Indonesia?”
Liburan di Indonesia selama dua minggu, baru dua hari. Dia melakukan perjalanan dari Jakarta sampe Solo dengan kereta. Awalnya dia naik kereta dari Jakarta ke Cirebon. Bermalam di kota itu semalam. Kemudian melanjutkan perjalanan dari Cirebon ke Jogjakarta. Bermalam lagi. Trus ke Surakarta. Katanya, nanti habis dari Surakarta dia naik kereta lagi ke Surabaya. Kemudian terbang ke Bali. Setelah dari Bali balik lagi ke Jogjakarta. Trus baru kemudian ke Jepang.
Menurutku rutenya muter-muter. Tapi agar dia bisa menikmati perjalanan kereta lebih lama. Makanya dia sengaja mengambil rute muter-muter.
“I love train so much,” katanya sambil mengepalkan tangan. Mengumpulkan telapak tangan kiri dan kanan dalam satu kepalan, dia menaruhnya di dagu. Aku suka cara dia bercerita, tangannya lebih banyak menjelaskan daripada bahasa inggrisnya. Mungkin karena terbiasa menjelaskan sesuatu dnegan berbagai cara, dia kan guru.
Dia bisa melihat dari jendela kereta, wilayah-wilayah yang asing. Menurutnya, rumah-rumah di sekitar rel kereta kelihatan pendek. Atau sebenarnya memang begitu? Aku jadi ikutan melongok keluar jendela, memerhatikan deretan rumah-rumah itu. Iya rumahnya jadi pendek. Hehehe...mungkin rumah di Indonesia memang pendek dan kecil.
Dia terkesan dengan Cirebon. Kota kecil yang manis katanya. Dia sempat jalan kaki berjalan-jalan sekitar hotel. Kotanya sangat tenang. Kemudian dia ke Jogjakarta. Dia baru sadar kalau musim puasa berisik di Indonesia. Selalu ada suara yang nyaring dengan pengeras suara. Dia bangun jam lima dan tidak bisa tidur lagi. Aku tertawa. Dia juga.
“why did u choose indonesia for ur holiday?”
Kemudian dia tersenyum agak lebar, matanya menyipit. Aku melihat kerutan di sekitar matanya karena tersenyum. Karena dia suka melihat televisi di Jepang yang mengabarkan kabaikan orang-orang Indonesia dan tergila-gila dengan komediannya.
Apa hubungannya?
Komedian itu datang ke Bali untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang orang-orangnya gak pernah marah.
“Haah, really? imposible” kataku sambil menggeleng-geleng.
Iya, katanya. Dia menceritakan kalau si komedian datang ke Bali. Dia meniup balon sampai menggembung kemudian balon itu diletuskan di dekat kuping turis Bule kulit putih. Reaksi bule tersebut langsung merengut dan meninggalkan lokasi. Kemudian hal serupa dia berlakukan untuk orang-orang Indonesia. Dan mereka hanya tertawa. Trus masih berlanjut, komedian iseng di sebuah warung sup buah, mengganti sirup merah dengan sambel saos. Para pembeli dari Indonesia makan sup buah jebakan itu, mereka kepedesan dengan sup itu tapi tidak marah.
Ia bercerita dengan seru. Dipraktekkan, tangan-tangannya membentuk bulatan balon besar kemudian meledak. Aku jadi terhibur dengan gayanya.
Pas menulis ini aku Search di Google, dan menemukan siaran televisi yang dimaksud. siaran itu menunjukkan bahwa Indonesia negara paling sabar. Setelah itu komentatornya bilang kalau hal tersebut dikarenakan cara mendidik orangtua indonesia, agar para anak-anak mudah menyembunyikan perasaanya. Adegannya persis yang diceritakan. Tolong kalian lihat sendiri di situs ini.
Itu kenapa salah satu televisi Jepang menobatkan peringkat satu untuk Indonesia sebagai negara yang tidak pernah marah. Ah itukan Cuma lelucon. Yang membuktikan aja komedian. Mana bisa dipercaya. Aku bertanya siapa nama Komedian itu?
“Udo Suzuki..”
Lagi-lagi aku menyerahkan notes dan pulpenku. Agar dia menulisnya. Udo Suzuki.
“Hihi cakep ya dia?”
“Enggak sama sekali, tidak cakep,” katanya. Telapak tangannya menggeleng-geleng. “Badannya pendek, dia memiliki rambut cepak yang aneh”
“Kenapa kamu tergila-gila dengan dia?”
Dia tersenyum tersipu. “Dia sangat lucu, ...”
Hahahaha ..
“Ur udo suzuki’s big fans?”
Ya, i’m
“aku nanti akan cari lewat google, penasaran seperti apa udo Suzuki yang kau sukai itu.”
Sewaktu akan memposting aku cari dan ketemu, Trara..ini dia Udo suzuki.
“he’s exactly not handsome..”katanya sambil senyum senyum
“Tidak apa-apa. Tapi kamu sangat suka dia, aku jadi penasaran.”
Kemudian kami diam. Aku membayangkan Udo suzuki. Terus aku bertanya, by the way siapa namamu?
“Maho”
Aku menyodorkan notes lagi. Dan dia menulis, Maho.
Aku juga menulis di sana. Izzah.
“Iza?” dia mengeja
Aku mengangguk.
Dia bertanya umurku, aku bilang 26 tahun. Tapi sebentar lagi 27 tahun. Dia gak percaya katanya aku masih berwajah 22 atau 23. GR keras aku, mana mungkin wajah tua begini. Tapi umurku jelas masih muda katanya.
“No. I’m still young but not younger, Maho. How about u?”
“thirty”
Kini giliran aku yang tidak percaya. Kukira kami seumuran. Dia menunjukkan kartu identitas. Dia kelahiran 1980, 12 November. Sebentar lagi 31 tahun.
“apa kamu nanti akan menikah dengan Udo suzuki?”
“come on, he’s just in television..”
“apa nanti kamu akan menikah?” tanyaku
“iya, aku mau,”katanya. Sebagian temen-temennya di Jepang tidak menikah, tapi Maho akan menikah.
“Dengan pria yang tidak cakep tapi lucu?” tanyaku spontan
Hahaha. Dia hanya tertawa. Aku juga.
“kamu?”
“Aku tidak tahu Maho.” Sambil ketawa-tawa. Menggeleng.
Kami tiba-tiba terdiam setelah topik ini. Saat itu Kereta keluar dari Stasiun Klaten. Kami melihat keluar jendela. Benar yang dilihat Maho tadi, rumah-rumah sekitar rel pendek-pendek. Ada sawah-sawah. Tanaman jagung terhampar masih setinggi lutut. Beberapa ternak digembala disekitar rel, rumput-rumput liar tumbuh disana.
“Hey, apa kamu sudah Ke Prambanan temple?”
“Belum, nanti setelah dari Bali.”
Ummm stasiun ini dekat dengan Prambanan lho, kataku. Dan seingatku setelah itu kami lebih sering diam. Kami melihat keluar jendela.
Hanya sesekali dia bertanya, apa perbedaan Prambanan dengan Borobudur? Aku jawab sebisaku. Ketika sampai Stasiun Purwosari, aku bilang kalau setelah ini Stasiun Solo Balapan. Kamu akan turun. Dia berbenah, memasukkan peralatan, buku Map travelling dan peta.
"have a great holiday, Maho.. "
"U too.."
Aku melihat Maho dari jendela. Aku geser duduk, dimana dia sebelumnya duduk. aku jadi turis sekarang :) Dari belakang, aku melihat Ransel hitam melewati kepalanya, celana warna khaki dan sandal teplek dari kulit. Rasanya lucu, ransel memenuhi separoh keatas dari tubuhnya. Kulihat Maho salah jalur keluar, dia ditegur seorang petugas. Kemudian dia berbelok ke jalur keluar Stasiun Balapan yang benar. Berjubal bersama penumpang lain.Umurnya 30 tahun sebentar lagi 31 tahun. Kelayapan sendirian di Indonesia, negeri yang difavoritkan oleh komedian kesayangannya, Udo suzuki. Semoga kamu tidak kecewa selama di sini.
Aku meneruskan perjalanan. Masih 1,5 jam lagi untuk sampe rumah. Kemudian berencana menulis tentang percakapan ngalor-ngidul kami tadi di blog,...Ruth Benedict sampe Udo Suzuki hehehe what a wonderfull conversation..
PS: mungkin diantara kalian sangat suka menulis fiksi di blog. Tapi aku tidak pernah menulis fiksi dalam blog.... Enjoy :)!
PPS: Dulu sewaktu kelas 6 SD, aku mengira menulis fiksi itu lebih gampang. Ternyata tidakkk :( I didn't write fiction, anymore!
Recent Comments