Ceritanya lama banget gak keluar pagi-pagi. Malees. Atau belum bangun. Atau masih mengantuk. Atau hujan. Atau dingin banget. Atau kebanyakan alasan. Hingga ada alasan yang tentu saja hanya dibikin-bikin. Kalaupun pagi itu aku tidak pergi juga tidak akan mati lho sebenarnya. Hwaaah, dasaaaaaaaaaar kota ini bikin males karena kemudahan-kemudahan. Walau bisa ke ATM bersama, aku mau ke ATM di jalan Cik ditiro, sengaja mencari yang agak jauh biar ada alasan berlari atau berjalan. Aku mengambil kartu ATM yang warna ijo, yang warna biru lagi gak ada isinya Hehehe…
Aku menuju selatan jalan utama C. Simanjuntak, pukul 05:30. Lumayan. Aku menyusur sampai habis jalan juga tidak akan capek. Aku memenuhi kupingku dengan earphone MP3 kadang ikut-ikut nyanyi kalau lagunya pas. Yay! Tidak terlalu memalukan kok jika aku melakukan kegilaan jam segitu. Jalanan masih lempeng, tidak seramai setelah jam enam pagi. Soale setelah jam enam, orang-orang mulai terlihat berkeliaran di jalan, bersepeda motor berangkat; kerja(terutama security aka satpam supermarket, sekolah, kampus, bank, dll...kostum mereka di jalanan membuatku tertarik, sangat identik satu dan lainnya; atasan tertutup jaket tebal ala preman atau jaket kulit imitasi dan celananya berwarna biru gelap seragam satpam) dan sekolah(mereka suka naik motor ngebut L).
Atau pengendara pulang dari pasar, beberapa diantaranya mengikat sayur mayur atau belanjaan di jok belakang motor. Pusat-pusat pembuangan sampah dibongkar dinaikkan dalam truk kuning DPU(deket perumahan BI), jika bersimpangan dengan begituan rasanya ingin mengambil jarak sejauh-jauhnya, baunya sedikit beracun bagi pagiharimu. Warung burjo yang selalu buka 24 jam. Angkringan di depan toko hape, pembelinya beberapa tukang becak. Bubur ayam di sisi berlawanan pasar terban. Kaki lima penjual gudeg khas pagihari, di depan apotek puji waras satunya di sebelah utara toko El’s. Warung makan ramesan tidak meyakinkan di deket toko hape V-sell. Mereka mencari peruntungan pagipagi. Sewaktu bertolak kembali, aku memutar lewat jalan Sudirman. Kemudian masuk kembali ke Simajuntak dari ujung. Jalanan sudah mulai kruyuk-kruyuk. Saranku sih jangan membahayakan dan mempermalukan diri sendiri; asik sendiri dengan lagu-lagu mp3mu atau celingak-celinguk kanan kiri kayak observasi mau mencuri. Walaupun tidak pernah tertulis tatakrama di pinggir jalan raya, kurasa juga sudah pada ngerti semua. Bukan bermaksud jaim tapi…*heisy, SUDAHLAH….*
(Di pertigaan Karita(butik baju muslim), aku berpapasan dengan mbak-mbak berambut lurus sebahu rebonding, ramping, berjaket pink dan celana jins selutut(ujungnya ada pitanya) mengendarai Suzuki thunder warna biru gelap. Aku geli ketawa-ketawa sendiri, gimana membayangkan karakter umum cewek tomboy? )
Sepanjang jalan c. simanjuntak berjubal bangunan, sebagaimana arteri perekonomian kota ini bekerja. Kota yang lebih dulu terpelajar, sekaligus satu-satunya yang masih memiliki raja dan emban-emban. Para pendatang berkeliaran menikmati kebudayaan terheran-heran, penduduk asli menikmati produksi dan konsumsi dari banyaknya waktu luang; penghasilan kos-kosan. Sedikit kelihatan merakyat tapi sama sekali tidak hemat(kakakku menyebut kota ini okay persisnya meledek; asketisme palsu. Hahahaha dia mah sudah jatuh hati dengan kota lain).
Mari kuabsen apa saja yang tersedia di jalan ini; Tempat photokopi, toko optic, jasa bikin Tato, jasa kurir dan antar barang, pasar, pom bensin, biro agen bus dan travel, jasa kursus nyetir mobil, toko jamu, laboratorium dan toko peralatan kedokteran, toko peralatan juga servis computer dan laptop, tempat futsal, Warnet, toko busana muslim, butik dan jual parfum asli, tempat makan prasmanan, tempat makan siap saji, kios hape dan pulsa, toko aksesoris dan mainan, tempat karaoke, toko tas dan sepatu, BPR(bank perkreditan rakyat. Yaah kali aja mau utang hehehe ), toko pecah belah, servis motor merek tertentu, studio photography, rental car, toko peralatan golf, toko peralatan adventure, toko bangunan, toko kelontong dan sembako, toko elektronik, bank, restoran, apotek, toko lampu hias, toko furniture, bengkel, Hotel melati dan kos-kosan, tempat bimbingan belajar, toko alat bantu dengar, Madrasah Aliyah negeri(SMA di bawah Depag) yang beberapa siswanya satu kos-kosan denganku, supermarket, toko batik, toko kue dan jajanan, salon, sampai habis jalan itu. Sebagian besar akan buka setelah jam 8 atau 9 pagi. Ya elaah, aku jadi ngerasa urban banget. Tinggal di sekitar jalan ini. Kalau kerjaanku menyusuri jalan itu saja, tidak akan mati. Kebutuhanku ada di sana. Serba terjangkau bahkan hanya dengan jalan kaki. Toko buku? Ah, ada toko buku shoping di Terban. Tinggal belok kiri sedikit aja.
Setelah jam delapan pagi hingga jam sepuluh malam, jalanan akan menyebalkan. Setelah jam delapan orang-orang berbagai kepentingan bergerak di jalan ini. mau belanja. Mau ke bank. Mau makan. Mau merawat diri. Mau servis. Mau mbenerin computer. Mau lewat ke kampus. Mau jalan-jalan dan cuci mata. Entahlah suka-suka. Dari berbagai kalangan kelas social, tukang becak, karyawan yang wangi dan rapi-rapi baju seragamnya, penjual gorengan, anak sekolah, politisi(yang memiliki toko furniture di jalan ini adalah seorang pengusaha jepara dan politisi kawakan. Sekarang jadi DPD pusat untuk djogja), anak-anak kos agak linglung kayak aku, tuan tanah(salah satunya adalah pemilik kosku. Beberapa tanah dan bangunan kos-kosan miliknya, bertebaran di sekitar jalan ini). Untuk konsumen golongan nasi kucing seribu perak sampai resto yang per-paketnya ratusan ribu rupiah. Maumu apa aja deh. Bahkan kalau mau di kubur dekat jalan itu boleh aja, belok kanan dikit ada pemakanan umum terban J. Mau?
Menjelang petang, beberapa toko dan tempat yang kusebutkan itu akan tutup kecuali salon, supermarket, toko computer, toko baju atau butik, toko hape, alat adventurer, golf, toko tas sepatu, warung makan dan restoran biasa tutup jam 8 tau 9 malam. Toko yang tutup emperannya berganti dengan tenda-tenda kaki lima; tenda penyetan, gorengan, gerobak roti bakar, angkringan, tambal ban, kebab, soto, gule, bakmi, nasi goreng, tongseng jamu dan b2 sampai jual slayer, helm, pulsa. Agak lebih malam(sekitar jam sepuluh malam) gudeg untuk tengah malam mulai buka. Menata tenda dan dagangan di halaman parkir, saat supermarket tutup. Mungkin sampai subuh.
Mba Dentina berbaik hati menghitung ukuran panjang jalan dengan sepeda motor, 900 meter. Jalan C. Simanjuntak dimulai dari pertigaan Jalan Sudirman hingga batas kota Jogjakarta dengan Sleman. Bagiku, batas kotanya sempat menimbulkan pertanyaan, kenapa jalan ini tidak berakhir di perempatan jalan Sardjito, pojokan Mirota kampus itu lho. Eh ternyata ada batas kota beberapa jengkal ke utara sedikit, tepatnya di depan Salon Larissa ada gapura bulukan tidak terawat. Jika malem hari batas kotanya semakin kelihatan lewat lampu-lampu berbentuk gunung dalam pewayangan. Tanda batas wilayah Sleman dengan kotamadya. Ini urusan perbatasan je, walaupun beberapa jengkal tetep harus dipertahankan. Pokoknya dari batas sinilah Jalan C. simanjuntak berakhir, dan jalan Kaliurang nol kilometer mulai dihitung.
Jaman peradaban mulai di bangun, perkembangannya berjubal sepanjang sungai-sungai seperti era eufrat dan tigris kebudayaan menakjubkan dari Asia Barat Daya, juga sungai Nil di Afrika Utara, kebudayaan mediterania Persia menyisir sungai Indus. Sekarang mah garda depan peradaban berada di sepanjang jalan raya.
Gara-gara tidak bagus perhitungan spasialku, aku mengandalkan hapalan jalan-jalan. Apalagi kalau di jogja petunjuk arahnya pakai arah mata angin;ngalor, ngidul, wetan, kulon(utara, selatan, timur dan barat)…mati mati. Untungnya disini, memperhitungkan tata ruang arah mata angin dengan menarik garis lurus utara-selatan, gunung merapi ke pantai selatan. Patokannya adalah TUGU. Asep, temenku dulu menerangkan dengan sangat baik soal ini padaku. Woey ingat gak ya dia pernah ngajari aku melihat mata angin? Terimakasih bapak guru, aku tidak akan lupa. Di jogja kamu gak akan tersesat, jika bisa membayangkan TUGU.
Bagi yang suka memperhatikan nama jalan, sebagian besar nama jalan di Djogjakarta (Dan kota-kota lainnya) memiliki seri yang digolongkan. Semisal seri pahlawan revolusi di sekitar jalan malioboro; jalan brigjen katamso, jl A yani, MT haryono dll, Di sekitar Sekip setiap gang dan nama jalan berupa nama-nama tanaman(podocarpus, puring, cemara, aleandra, kayuputih, asoka dll). Halnya penamaan jalan di perumahan bulaksumur(mahoni, kembangmerak, dll). Kompleks keraton dengan nama-nama khas keraton.
Kecuali ada peristiwa atau napak tilas(biasanya orang yang dipahlawankan) hingga melibatkan jalan menjadi bagian dari monument. Ya, jalan sebagai monument. Termasuk diantaranya jl C simanjuntak. Pemilihan nama untuk Jalan C. simanjuntak diambil dari seorang composer dan pencipta lagu di era perjuangan kemerdekaan. Dia merupakan salah satu golongan pemuda terdidik yang terlibat dalam gerakan kemerdekaan. Saat soekarno-hatta memindahkan pemerintahan di Jogjakarta, Cornel Simanjuntak dan beberapa seniman lain pindah ke Jogja pula. Dia memilih untuk menetap di kota ini hingga akhir hayatnya(jadi bisa dimengerti kan kenapa ada orang bernama batak-batak begitu, malah dibikinin monument jalan di jogja. Malah mungkin gak ada di kota kelahirannya. Kalian mau mati dimana?). Salah satu karya yang paling gampang diingat adalah maju tak gentar. (Nyanyinya sambil agak teriak, kaki-kaki terhentak, beatnya cepat dan bersemangat.) Maaaju tak gentar, membeeeeela yang benar… aku lupa lirik lengkapnya. Wah, malah berasa ikut dalam propaganda partai politik(berafiliasi dengan gerakan agama tradisional) gitu deh. Ya to?
Konon, rumahnya tepat di tanah yang sekarang digunakan sebagai restoran, Seven Resto. Untuk memonumenkan Cornel Simanjuntak, akhirnya sepanjang jalan itu ditandai sesuai namanya. Padahal kalau melihat serinya, jalan C simanjuntak berada pada wilayah nama-nama pahlawan kemerdekaan. Misalnya, jl sudirman, jalan Cik ditiro, jalan diponegoro, lha ini malah nyeleneh sendiri. Eh ternyata, karena ada tokoh pernah tinggal di sana. Sama kasusnya dengan jl Affandi(dulu Gejayan, rumah tinggal pelukis impresionis yang terkenal itu lho), jl Herman Yohanes(dosen UGM yang mendirikan pabrik senjata. Dia menjadi monumental karena ahli dibidangnya. dulunya dia tinggal di daerah Sagan situ), termasuk Jl KH achmad Dahlan di daerah kauman(pendiri Muhammadiyah itu memang pernah tinggal di sana, sekaligus gerakan agama itu mulai dihidupi) dll…..
Jalan ini, bukti Ilusi manusia akan keabadian. Sedangkan sebagai ruang, dia ribut sendiri.
Recent Comments