Aku duduk seperti biasa, berbicara dengan intonasi yang berapi-api. Tubuhku condong ke depan menunjukkan terlampau bersemangat, tanganku bergerak seperti tsunami. Sebuah tugas muamalah yang harus aku patuhi, supaya terkesan enjoy. Aku dapat bersama-sama orang lain. Walaupun disebuah sudut perasaanku menyatakan, ada yang lebih menarik daripada sesuatu yang kubicarakan dengan berapi-api ini. Yaitu berada di kamarku. Aku selalu ingin cepat kembali pulang ke kamarku. Ke kamarku. Titik. Ruangan yang tidak membuatku melakukan peran tertentu. Sebuah kubus besar yang kutinggali seperti cangkang siput sawah.
Di luar sana, aku cenderung jadi pelayan.
Aku terus berbincang sendiri disela-sela obrolan berapi-api, sembari duduk bengong disertai tatapan kosong. Aku membuat sebuah perbincangan lain saat perbincangan berlangsung. Semacam perbincangan kedua dengan diriku yang lain.
*************************************
Dan hai, kenapa kamu begitu kaku?
Apa sih kaku itu?
Usaha yang terlampau keras dalam melindungi dirisendiri.
Kenapa kamu selalu harus melindungi diri?
Karena sering takut dan tidak aman.
Takut dan tidak aman atas apa?
Kekecewaan dan kesakitan.
Apa yang terkecewakan?
Fantasi
Apa yang tersakiti?
Hargadiri
Maksudnya?
Kamu sudah mengerti. Maksudku...aaagghhh
Bagaimana caranya agar kamu tidak takut?
Selalu bersama-sama keluarga dan orang-orang terpercaya
Bukannya kamu sudah dewasa dan bebas?
Kupikir juga begitu. Tapi kenyataanya, aku sama sekali tidak bebas. Kebebasan adalah utopia
Jadi?
Berbuatlah seperti keluarga.


Recent Comments