Ternyata, aku juga suka Man Walks Into a Room by Nicole Krauss. Novel ini ditulis lebih dulu, tahun 2002, sebelum History of Love, 2004.
Ternyata, aku juga suka Man Walks Into a Room by Nicole Krauss. Novel ini ditulis lebih dulu, tahun 2002, sebelum History of Love, 2004.
Posted at 03:37 PM in Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Diadaptasi dari novel Jonathan Safran Froer dengan judul yang sama, Extremely Loud and Incredibly Close, membuatku menangis. Walopun tidak suka dengan endingnya, film ini layak ditonton. Aku belum pernah baca novelnya tapi aku berharap akan baca segera. Aku beriman kalau menikmati novel aslinya selalu lebih menyenangkan daripada film yang diadaptasi.
Aku suka terutama karena film ini mewakili perasaanku, tentang kehilangan.
Posted at 12:08 AM in Books, Film | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Kemarin sore aku ke shopping, deket taman budaya. Gara-gara temenku mencari buku lawas yang dicari-carinya dari beberapa waktu lalu ga ketemu-ketemu. Makanya dia berinisiatif nyari-nyari di shopping. Hasilnya, setelah keliling dia tetap tidak menemukan buku itu, malahan aku membeli dua buku. Salah satunya ini.
Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan temanku soal Ayu Utami. Mana ngobrolnya itu di depan penjual buku, temanku mengutip pendapat istri Saut Situmorang yang mengatakan bahwa Ayu Utami tidak mewakili gerakan feminisme di Indonesia. Dia hanya mewakili perempuan dari golongan dan kelasnya semata.
(Aku bertanya-tanya: apakah penulis disini selalu dibebani kisah-kisah tentang kemiskinan, agama dan cita-cita berkeliling dunia. Sesuatu yang mencerminkan moral tertentu, kredo epik dan harapan.)
Emangnya laporan penelitian soal gerakan feminisme, hingga harus dituntut mewakili mayoritas tertentu. Sehingga perlu tuntutan tentang siapa berperan apa dan mewakili siapa. Aku menikmati keindahan dari novel karena bahasa bisa menunjukkan jiwa-jiwa lewat narasi. Aku tidak mau membawa isu Ayu Utami ke dalam provokasi feminisme. Atau bagaimana sebaiknya moral dalam karya sastra. Aku menilainya sebagai karya sastra dan bagaimana kemampuan bahasa mengungkapkan jiwa dan perasaan –perasaan manusia. Aku suka Saman.
Temanku mulai membahas soal narasi-narasi “dewasa” dalam novel-novel Ayu Utami. Dia membencandai aku soal beberapa narasi kontroversial soal seks dan perspektif radikalnya soal itu. Itu membuatku malu, apalagi penjual buku ikut-ikutan mendengar dan nimbrung komentar. Membuatku jadi tambah malu dan hanya bereaksi: Asyeeeeeeem.
Bukan itu. Tapi jika kujelaskan saat itu juga pasti aku kelihatan terlalu ngotot. Sehingga terkesan kaku dan tidak bisa membiarkan sedikit saja humor cabul para pria-pria ini berlangsung. Waktu pertamakali membaca Ayu Utami, aku mengenali sisi monster dari dirinya yang juga kumiliki. (aku kesusahan mendeskripsikan, umm kurasa “spiritual” dan kebebasan adalah poinnya)Tidak sama tentunya, apalagi bentuk manifestasinya. Bedaaaaaaaaaaaaaaaaa banget, terutama aku dan Ayu Utami mewakili konteks sosial yang jauh berbeda. Tapi karena Ayu Utami adalah cewek yang terkenal dengan narasi-narasi dewasanya, bikin aku tidak punya kesempatan menjelaskan pendapatku. Dengan menjadi penggemarnya, bukan berarti aku juga sepakat dengan segala perspektif moralnya.
Oh iya, aku juga memuji keberanian dia dalam menulis: mengungkap sesuatu tak kasat mata yang membelenggu jiwa-jiwa.
Secara teknis, tidak susah bagiku menyelesaikan buku ini, Cerita Cinta Enrico. Chapter pendek-pendek, jadinya aku tidak lelah membacanya. Walaupun tetep suka Saman, Cerita Cinta Enrico lebih bisa dinikmati daripada Bilangan Fu. Jika kalian menginginkan aku bercerita tentang novel ini, cerita lewat ngobrol aja ya(hehehehe).
Selamat berakhir pekan!
Posted at 09:20 AM in akhir pekan, Books | Permalink | Comments (1) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
"The cure for boredom is curiosity. There is no cure for curiosity.”
Dorothy Parker (1893 – 1967)
Posted at 01:28 PM in Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
We’re all on a journey, even if we have been settled in our current domain for years. Such is the passage of life, taking us through peaks and valleys and along detours and bumpy roads although, hopefully, we get the chance to stop and smell the roses along the way
---Bruce Emond in Weekender---
Posted at 03:58 PM in Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Senin pagi jam 07.30, Norma sms kalau sudah ada di depan kosku. Kami akan ke UC ada ulang tahun Pak Nasikun. Pak Nasikun adalah guru hampir semua orang yang belajar sosiologi di UGM hingga tahun 2005. Kemudian beliau sakit di tahun 2006 hingga sekarang. Karya beliau yang terkenal adalah Sistem Sosial Indonesia. Aku tiga kali ke rumah beliau, kesan: beliau selalu menempatkan orang yang diajak ngobrol setara. Misal, disalah satu pertemuan, beliau waktu itu membicarakan tentang E. F. Schumacher, itu lhoo yang bukunya Small is Beautiful(ekonom inggris yang mengkritik ekonomi barat terutama soal krisis energi dan globalisasi). Aku tidak tahu banyak tentang Scumacher tapi beliau tidak frustasi atau mutung menghentikan pembicaraan. Malah kemudian beliau bercerita tentang E.F. Schumacher lewat contoh-contoh yang lebih ringan dalam konteks yang kami bicarakan sebelumnya. Aku belum pernah bertemu dengan guru seperti beliau sampai sekarang. Setelah pulang dari rumah beliau, aku langsung mencari buku E.F Schumacher :P. Jadi malu. Hari ini ulang tahun beliau dimajukan dari tanggal sebenarnya 28 Oktober, jadi hari ini 24 Oktober.
Dan pagi ini, Norma naik prameks jam 05.30 dari Solo. hohoho pejuang sejati emang. Padahal acara baru dimulai jam 08.50. Dimulai telat hampir satu jam dari undangan 08.00. Payah nih. Soalnya nunggu Pak menteri pemuda dan olahraga datang. Katanya, pesawat pak menteri delay. Setelah datang dengan pesona dan kumisnya, pak menteri tetap percaya diri tingkat tinggi: Selalu tersenyum dan bercerita misi-misinya sebagai menteri. Acara ini rangkaian dari peluncuran Youth Summit (semacam pusat studi kajian pemuda, dikelola jurusan) didanai oleh pak menteri :D. Ehem, ya iyalah dia PD banget sodara-sodara xoxoxox...
Awalnya aku dan Norma kepedean duduk deretan kursi nomer 3, ternyata sudah ada tulisan UNDANGAN. Dengan menahan malu aku dan Norma mundur di deretan kursi yang lebih populis. Akhirnya kami duduk dideretan belakang. Duduk di tengah, sampingku mbak-mbak dengan laptop terbuka dan terus memantengi layarnya. Dari aku datang mbak ini terus menulis, setelah duduk aku ngintip apa sih yang sedang ditulis: ternyata dia menulis tentang usaha kecil di Pekalongan. Semacam kredit usaha kecil atau perkembangan usaha gitu dah. Hehe maap ya mbaaak, aku ngintip-ngintip. Penasaran je.
Di tempat acara, UC, kami haha hihi dengan komunitas jurusan dan temen-teman kampus. Aku pulang lebih dulu, sebelum acara selesai. Aku menuju kantor. Kalian belum kuceritakan tentang kantor baruku? Soal kantor baru banyak dan panjang banget kisahnya.
Aku sampe kantor jam setengah sebelas, tadi udah minta ijin kalo sedang ikut ultah Pak Nas di UC. setelah ngobrol-ngobrol dengan temen di kantor jam menunjukkan jam 12. Hah, cepet banget. tiba-tiba aku di telpon Mba Lisa, hari ini kan ada janjian makan siang dengan temen-temen kantor lama.
Undangan disebar lewat SMS, semalem. Kami makan siang di Bumbu Desa, Sagan. Oke. Aku kesana, sudah pada dateng semua, termasuk, si Boss, Mba lisa, Mas tri, Mas Idris dan Mas Danang. Juga Norma dateng bareng aku.
Kami ngobrol sangat garing. Oh maksudnya kurang menggairahkan. Bukan ummm kami membicarakan politik sampai Marco Simoncelli. Topik-topik yang disuguhkan oleh para jurnalis di media-media Indonesia. Hawa kantor lama, rasanya menyeruak memenuhi perasaan. Fadel Muhammad dipecat bukan lebih tepatnya diberhentikan dari jabatan menteri, konon gerakannya mengungkap skandal ekspor garam. Popularitas Dahlan Iskan yang low profile, bisa jadi boomerang bagi karier politiknya*menurut analisis bosku*. Kalo menurutku, tidak juga.
Oh iya, kami juga membicarakan demonstrasi di wall street. Ahay, bagian ini yang dramatis. Si bosku yang marhaenis ideologinya (tapi pribadinya tidak :D), dengan bersemangat menjelaskan kejatuhan kapitalisme. Mulai kredit macet di USA sampai moneter adalah urusan orang Jakarta yang kehidupannya digerakkan lewat denyut nadi berbelanja. Bukan orang Indonesia secara umum, kata bosku. Aku jadi pusing, bahkan tepung terigu kita impor(ibuku yang jauh di kampung sana menggoreng tempe dengan terigu impor). Kedele juga. Bagaimana gak tersentuh moneter?
"Harusnya kita tidak bodoh, manut-manut saja denga kebijakan AFTA atau berbagai asosiasi perdagangan internasional lainnya," Umm, Bosku adalah orang yang kritis, 64 tahun dan sangat gigih.
Ini adalah obrolan makan siang kami. Aku duduk persis di depan Bosku itu, jadi akulah yang paling punya tanggungjawab mengobrol :D.
Setelah acara makan siang plus perpisahan kantor lama, aku segera balik. Pamit-pamit dan mengucapkan perpisahan. Daaaaaghh...
Hingga sore aku di kantor, sebenarnya aku tidak mengerjakan apapun. Semacam observasi awal karena masih unyu-unyu.
Aku nyampe kos jam 5. Beberapa menit kemudian Puri sms. Katanya dia sudah dijogja. Trus ngajakin ketemu dia Cafe Peacock. Katanya di dekat dalem sunarti di daerah JL AM Sangaji. Waktu itu aku langsung berangkat, tidak ganti baju atau yang lain. Aku menyetop Bis Pemuda D5, nanti turun perempatan Jetis. Ternyata di tengah jalan aku baru sadar, dompetku ga ada duit cash sama sekali. aku mengeluarkan tiap slipnya aku hanya menemukan kartu-kartu: kartu perpus, kartu periksa, kartu nama, KTP dsb dsb. Hwaduw.
"Pak pak saya turun sini saja" aku minta diturunkan disana saja."maaf pak, ternyata saya tidak punya uang untuk bayar.maaf ya pak" *wajahinnocent*
"Iya mbak...." pak sopirnya malah ketawa-tawa. Aku maluuuuuuu setengah mampus.
Aku turun di depan kantor PKPU trus jalan ke arah JL AM Sangaji. Untung ini Jogjakarta, aku masih bisa berjalan kaki. Aku jalan terus hingga bingung, dimana tepatnya. Aku bertanya pada salah satu tukang parkir di pinggir jalan. Pak tukang parkir itu bingung. Malah balik bertanya, yang benar JL AM Sangaji?
Iya kataku. Aku menjelaskan sebuah kafe tempat minum kopi dan nongkrong.
Bapaknya tepok jidat. Dia ngasih petunjuk rumah kosong persis di depan Papa Ron's Pizza.
Udah tutup mbak, malah ada tulisan mau dijual.
Jadi, cafee Peacock sudah tutup.
Aku nyampai disana emang sudah tutup. Tempatnya berpagar merah dan kelihatan bekas-bekas interior artistik di halaman rumah. Tapi...Puri belum datang.
Aku telpon Puri, wai Cafe peacock telah tutup. Setelah ketawa-tawa sontoloyo, kami memutuskan tetap janjian di sana.
Ehem, JL AM Sangaji adalah wilayah kekuasaanku. Terutama awal-awal kepindahanku dari Pesantren Krapyak ke kota. Kos-kosan yang lebih terjangkau dengan kampus, dulu aku ngekos di daerah cemoro jajar: JL Trimargo lokasinya sangat dekat dengan JL AM Sangaji.
Aku jadi nostalgia, dulu di deket gereja ada yang jualan serabi enak. Aku berjalan kesana. Huwaa pasar Kranggan, aku berjalan menuju sana, banyak banget yang jualan sore-sore. Biasanya Jalan Pasar Kranggan juga rame, ada penjual tahu-tempe, buah-buahan, sayur mayur, ikan kranjang dsb dsb(dear sobatku, Dinar darundini Amrita Hati, are u remember about pasar Kranggan? :P) Aku jalan di trotoar JL AM Sangaji, sebelah kanan. Trotoar itu berjejer-jejer lapak penjual bunga dan menyan. Berjalan disana berasa bau bunga. Emang tercium bau bau bunga buat nyekar.
Hingga disalah satu pojokan, aku melihat keramaian. Persisnya seberang jalan dengan Gereja JL AM Sangaji, ada mobil-mobil parkir, motor-motor, orang-orang berdiri berkerumun.
Ada apa?
Aku melongok dibalik keramaian. Ternyata ada embah-embah duduk ndeprok di bawah, dihadapannya ada tiga baskom besar ditutupi daun pisang. Masing-masing baskom ditutupi lengser atau tampah berisi Cenil, Gatot dan Tiwul.
Ketiganya adalah jajan pasar tradisional yang legendaris, disajikan dengan kelapa parut dan berbahan dasar dari singkong jadi punya kecenderungan lengket. Cenil itu warna-warni transparan didominasi warna pink. Gatot berwarna coklat, terbuat dari singkong yang dikeringkan dan berjamur, kemudian di kukus. Tiwul juga berwarna coklat terbuat dari singkong, dijemur sebelumnya kemudian ditumbuk(dihaluskan). Beberapa menjadikan tiwul sebagai bahan pokok makanan, pengganti nasi. Tapi kalau tiwul yang dijual sekarang rasanya manis, dimakan dengan kelapa dan taburan gula jawa saat mengukus.
Oh ini menarik sekali. Aku terhenti di kerumunan itu. Kemudian ikutan membeli berdiri berjajar bersama orang-orang yang mengantre.
Yaelah, tiga bungkus. Masing-masingnya satu bungkus: Satu bungkus Cenil, satu bungkus gatot dan satu bungkus tiwul. @2500. Dimasukkan tas kresek hitam, dari perkiraan berat ditanganku bungkusan itu pasti lumayan gede :D...
Puri belum datang. Aku berjalan mencari serabi nostalgia yang sudah kuceritakan sebelumnya. setelah tengak tengok kanan kiri, aku tetep tidak menemukan lapak serabi. Hingga aku hampir nyampai ujung paling selatan JL AM Sangaji pasar kranggan. Tidak ada lapak serabi yang kucari.
Setelah melewati pasar kranggan dan tidak ketemu, akhirnya aku memutuskan balik saja ke tempat awal janjian kami mau ketemuan: Cafe peacock yang tutup tadi, di depan Paparons Pizza. haha brjalan sore-sore begini banyak sepeda motor berseliweran. Soalnya waktunya pulang kerja.
Ada tukang becak, yang membuntutiku. Mungkin dari tadi dia sudah melihatku berjalan-jalan celingak celinguk.
"Mbak becak mawon nggih? Bade dateng pundi to?"
Aku bilang ke tukang becak, aku memang mau jalan jadi tidak meggunakan becak.
Nyampai di Paparons, mati mak haus sekali rasanya. Tulalit-tulalit, ternyata Puri sms. Dia sudah dipasar kranggan!
Hah? Oke, kamu disitu aja, nanti kita malah tidak ketemu.
Aku balik lagi ke selatan sodara-sodara, menuju Pasar Kranggan. Satu-satunya yang memberatkanku adalah malu terhadap tukang becak :P.
Aku melihat Puri sedang berdiri, memandangi monumen tugu berbaju kuning.
Waiii. Setelah preambule antar teman yang meriah, kami memutuskan untuk ke Kopitiam Oey aja. Tempatnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari JL AM Sangaji ke JL Wolter Monginsidi. Makan malam dan ngobrol adalah pekerjaan yang pas untuk reuni :P
Kami Pulang sekitar jam 10 malam, sebelumnya Puri mampir di mini market. Beli odol dan keripik untuk 4o orang untuk oleh-oleh temenya di hotel. 4 bungkus keripik untuk 40 orang, hehehe masyhgul emang. Gak apa-apa dua potong per orang.
Pulanglah aku, sampai kos. Mandi dan tidur. Jogja dan sekitarnya sangat gerah, panas banget bikin keringatan sepanjang waktu.
Besoknya sudah Selasa. Sangat pagi aku di sms sama Eka. Nanti malam dia akan menjemputku, mamaknya dari Wajo Sulawesi datang ke Jogjakarta. Besok(hari ini) menghadiri wisuda Eka. Owh, tentu saja kataku. Katanya, mamanya membawa kue khas Wajo. Ehem, asyiikkk.
Eka adalah temenku dari Wajo Sulawesi Selatan. Cewek Bugis Wajo asli, walaupun namanya sangat Jawa. Eka Damayanti, tidak tersisa sedikitpun bau bugis dari namanya. Walaupun kalau ketemu akan dilihat tanda-tanda bugisnya: intonasi berbicara, mata yang sipit dan kulitnya yang terang. Soalnya Eka lahir pas tahun 80-an, semua orang di Indonesia kesetrum dengan Jawa. Hingga dari cara penamaan para bayi-bayi mereka juga berbau Jawa. Waktu itu dipercaya bisa memudahkan urusan administrasi si bayi kelak. Aku cerita begitu sama Eka. Hehe dia gak terima. Soalnya sewaktu dia lahir, tantenya yang kasih nama. Pisss :P.
Oh iya selama aku sahabatan dengan Eka, mengalami banyak gelombang pasang surut. Kadang-kadang kami berantem parah. Tapi terkadang kami merencanakan kegiatan bersama-sama. Eka dan aku memiliki sifat yang hampir mirip, terutama sifat straightforward tanpa tedeng aling-aling itu hehe... Bagi orang yang tidak terbiasa, pasti sangat sarkastik.
Singkat cerita(sebenarnya aku sudah ngantuk hihihihihi), ini dia kuenya.
Kayak lepet: terbuat dari ketan hitam, dibungkus daun, diikat ikat memanjang. Rasanya gurih, cara makannya dicocol dengan abon daging atau abon ikan.
Aku jadi ingat Muhammad Sana yang super duper iseng! Medio survey lalu, dia membawa Lemang: makanan yang rasanya mirip ini dari Malimping. Dear Sana ^^
Whatever, Thanks Ekaaaaaaaaaaaaa :P Met wisuda. Semangat berkobar, 2013 Phd!!!???
Posted at 12:03 AM in Books, Current Affairs, Friends, Sosiologi | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Ritual is a means of communication by which the individual expresses his/her character or convey her/his appreciation of the other participants in the situation. And represent a way in which selves are confirmed.
(Erving Goffman; 1967:54,51)
Posted at 12:33 PM in Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Sobatku Ryan mengirimkan email ini beberapa bulan yang lalu. Isinya novel, karangan dia. Judulnya tidak boleh kuposting di blog.
Ketika tahu ada 261 halaman microsoft word, 1,5 spasi, aku langsung lemas. Aku belum pernah menulis sepanjang itu. Disaat bersamaan aku sedang membaca Chinua Achebe, Things Fall Apart(Ryan, aku sudah bercerita padamu ringkasan novel ini kan?). Novel keren, lama sekali selesai karena berbentuk E-pub program Moziila yang fantastis*semogadalamwaktudekatbisabelitabletamiin*.
(Dear Ryan, kayaknya aku mempertimbangkan mau mengganti si darko dengan softlens. Semoga tidak iritasi. Mata melotot didepan layar membuat darko semakin tebal, minus 6 kiri dan 7 kanan. Lama-lama, darko semakin sewenang-wenang. Oh iya, mungkin aku juga musti kenalan dengan audiobooks. )
Cerita diawali, Lang melakukan korespondensi dengan emmanuela wijayanti, kayaknya sih sang pujaan hati. Sepanjang surat, Lang bercerita tentang kisah-kisah masa kecilnya pada emmanuela. (kurasa dalam banyak sekali profile, Lang is you :D). Tradisi lebaran, dolanan masa kecil sampai memory orde baru. Menceritakan setting masa lalu lewat surat-suratnya kepada pacarnya Wijt. Kemudian tetap bercerita tentang kekinian dalam narasi-narasi. Isu-isu radikalisme sampai kosmopolitanisme. Novel ini bertutur dengan gaya Ryan, resmi, tidak bertubi-tubi dan sopan. Dan yang paling penting selesai(Seingatku, Ryan selalu menyelesaikan pekerjaannya. Aku telah bersahabat dengannya dari 2003, selalu heran dengan stabilitas yang dimilikinya. Salute!)
Rasanya seperti membaca essay tentang sejarah. Bisa berarti baik, tapi juga bisa berarti buruk.
Baik karena spirit novel ini sangat menarik dan perlu di contoh. Sebuah prosa yang mengungkap tentang perubahan sosial: spiritualisme dan agama di Indonesia, lewat setting “Watubonang dan Jogja”. Bagaimana Watubonang yang dulunya kejawen menjadi Radikal islam, sangat menarik. Proses itu di Indonesia sangat aktual dan sedang banyak dibicarakan. Itu kenapa, pendekatan sejarah memang sangat penting. Novel ini bisa mewakili beberapa proses penting mengenai agama dan spiritualisme lewat sudut pandang Lang, terhubung dengan relevansinya bagi proses sejarah di Indonesia.
Buruk karena jahitannya kurang intens membuatku merasa prosa 261 halaman ini dipartisi dengan tema-tema berlainan. Seperti essay atau makalah tentang dunia mahasiswa. Disisi lain sejarah kampung halaman. Agama dan radikalisme. Tema-tema besar beradu siku. Usul: hidupkan kembali, 50 halaman pertama(untuk merajut wol bernama kontinum, disana menentukan spoiler dimunculkan depan belakang)! Dan 20 halaman terakhir(maksudku untuk ruang romantisme dengan Wijt, agar tidak terkesan tiba-tiba mengajak menikah. Ummm, *shakehead*)...
Banyak sekali teori bertebaran, menandakan penulisnya punya kekayaan. Misalnya Teori pascakolonial sewaktu Spivak datang dan memberi ceramah di sadhar. Halaman 38 mengenai teori punishment: Foucoult.. Juga Harvey Cox hal. 197, tentang kota. itu kenapa membuat novel ini kaya referensi dan “berat”. Tapi bisa tergelincir di planet lain, jauh di sana meninggalkan cerita yang mau dinarasikan... atau coba simak, dihalaman awal tentang filsafat agama dan filsafat manusia vis a vis dengan filsafat modern soal persepsi mengenai waktu. Pembaca butuh penjelasan. Dalam akar filsafat, mereka tidak bisa dibandingkan. Karena pada percabangan yang berbeda...tapi mungkin maksudnya bukan seperti yang kubayangkan tentang waktu dalam cabang filsafat.
Oh iya, Surat-suratan dengan Wijt itu jadi terkesan imajiner dalam arti sebenarnya. Satu-satunya komunikasi resiprokal surat menyurat itu adalah kiriman foto yang kata Lang, wajah wijt tampak muda. Seolah-olah surat itu jarang dibalas oleh wijt, jadi Lang tidak pernah membahas apa-apa tentang Wijt disana kecuali pemujaan. Wijt adalah satu-satunya tokoh yang kontinyu hadir dalam awal dan akhir cerita, karakter dia sangat penting.
Akan menarik dan lebih dramatis kalau karakter trisula diperdalam. hehe usul lagi. Dua orang itu hilang ketika Lang sudah dijogja, padahal menurutku sayaaaaang banget. Mereka bisa digunakan untuk menggambarkan proses berbeda pilihan beragama..emang sih novel ini dimaksudkan untuk menceritakan Lang, tapi......
umm misal,
Dalam the White Tiger, Aravind Adiga menggunakan tokoh Aku untuk melihat semua realitas. Dia menjadi peneliti lingkungannya sekaligus hidup disana. Misalnya saat dia menceritakan lingkungan sosial para sopir orang kaya di Mumbay( Mereka bergerombol membicarakan bos-bos mereka, suka pipis sembarangan, suka ngeseks dengan perempuan yang mau dibayar murah, bergantian membaca tabloid kriminal: perampokan dan pemerkosaan........dimasing-masingnya si tokoh “aku” berada disana entah dalam rangka menceritakan orang lain. Kalo tidak salah tokoh “aku” sering menceritakan pengalaman sopir dengan bibir kemerahan karena penyakit kulit. Sehingga karakter sopir dengan bibir merah penyakitan itu bisa dibayangkan karakternya. Atau pengalaman dari dirinya sendiri. Ingatkah sewaktu tokoh “aku” mau membayar mahal untuk perempuan berambut pirang? Dan setelah menabung dan membayar mahal, tokoh aku hanya mampu menyewa perempuan dengan rambut pirang palsu. Atau rambut pirangnya dicat artifisial)...Penggalian situasi seperti itu yang aku maksudkan detail. Many things to menggambarkan kelekatan,....
Jadi, menurutku, kekuatan dari novel ini ada di plot. Lancar dan bisa kutangkap alurnya. Aku bisa membayangkan cerita perkembangan Lang sejak masa kecil, hingga datang ke jogja. Dan tarik ulurnya dengan banyak isu. Menurutku, soal ini pantas mendapatkan pujian.
Overall, Jaiyo! Aku belum pernah menulis 261 halaman dan whatttt??? Ur great!
Posted at 03:40 AM in Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Posted at 09:22 PM in Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us
Aku dan Chanyu janjian setelah maghrib. Tak tunggu-tunggu katanya dia akan sms jam kapan kita keluar ternyata gak kabar-kabar. “When i should go?” kataku akhirnya dalam sms.
Tidak menunggu beberapa detik, dia telpon dan bilang baru selesai briefing di kerjaannya. Hoh, minggu-minggu kok kerja. Oke, dia bilang lima menit lagi menunggang maxi, nyamperin aku. Sip.
Awalnya aku tanya ke dia, dimana Agen Jakarta Post kalau di Jogjakarta? Chanyu bilang ada di sebelah Gramedia, dulu tempat kursus ELTI sekarang kantor Tribun. Maka kami kesana dulu, aku dititipin Kak Ida beli koran Jakarta Post tanggal 29 dan 30 September 2011. Kenapa kok ngebet cari koran yang telah lewat. Kata Kak Ida, tulisannya dimuat. Owh...oke.
Aku nyampe ke kantor Tribun, ada mas-mas kasih info tanpa kuminta. Soale aku celingukan kayak orang bingung. Mau tanya satpam, ia malah kelihatan sibuk bantu atret mobil mau keluar parkir. Trus ada mas-mas sedang ngobrol-ngobrol di tangga masuk kantor Tribun bertanya keperluanku. Aku bilang, dimana distributor Jakarta Post? Katanya distributor ada di belakang gedung Tribun, tapi kalau hari minggu tutup. Aku juga bertanya kemungkinan beli koran-koran yang lewat tanggal. Katanya lagi, kemungkinan besar masih ada. Aku berterimakasih dan merasa lumayan. Setidaknya kak Ida sedikit lega, koran yang dicari-cari kemungkinan bisa didapat.
Kami segera cabut menuju JEC. Kami mau nyamperin pameran komputer sebentar, mbak Naim mau beli leptop baru, aku disuruh liat-liat. Sedangkan Chanyu mau beli mouse yang bagus. Karena tiaphari aku hanya bererdar di kota, jarak JEC dari tempatku jadi jauh banget rasanya. Tapi kami nyampe juga, Chanyu memilih parkir di luar. Dan harga parkirnya, 3000 rupiah. Busyeet mahal banget , celetuk Chanyu. “setahun sekali!”kata mas tukang parkir. Apanya yang setahun sekali, ternyata kalau parkir di dalam Cuma 1500 rupiah bayarnya.
Kami beli tiket masuk, tahun ini juga lumayan mahal, biasanya Cuma 3000 rupiah. Tapi sekarang 5000 rupiah. Ditambah antrian panjang, gedung JEC sebesar itu dikerumuni ribuan manusia. Ngalah-ngalahin konsernya westlife, kata Chanyu. Setelah dapet tiket dan masuk ke gedung, aku langsung diserang pusing dadakan. Isinya manusia padat merayap. Inikan extraday, hari minggu. Jadi semua orang menyempatkan diri datang kesini. Iya betul.
Kayaknya aku tidak tahan berkompetisi window shopping dalam pameran ini. Terlalu banyak orang, kataku. Kemudian Chanyu bilang, sebaiknya kita tidak membeli barang hari ini. Sekarang kita samperin tiap toko yang buka gerai, trus ambil brosur-brosur yang disediakan. Kita bawa pulang dan bikin keputusan mana yang musti dibeli.
“Begitukah caranya? nanti gak papa kita kesini lagi?” tanyaku
“biasanya aku begitu kalau membeli di pameran”
“Tapi aku bukan orang yang sabar, .. “
“Kalau aku sabar. Aku akan melihat satu persatu brosur, hingga kemudian membuat keputusan”
Ummm baiklah, aku akan mencobanya. Aku membatin saja.
Aku mulai tidak fokus, mataku berkunang-kunang. Setiaptahun manusia lahir dimuka bumi, sebenarnya aku hanya bertemu dengan orang itu-itu saja. Dalam keadaan tidak tahu arah, aku membayangkan, berapa orang yang pernah ngobrol denganku sepanjang aku hidup di muka bumi. Mungkin 1500 orang. Ato mungkin 10.000 orang. Ato mungkin hanya 100 orang saja. Umm, berapa persen dari populasi dunia ya? Apa sebaiknya aku mencatat nama-nama orang yang pernah ngobrol denganku. Tapi tidak semua orang yang pernah ngobrol denganku, kutanya namanya. Siapa ya nama tukang becak langgananku yang suka nongkrong di depan potokopi Angkasa?
Apakah ribuan orang dalam gedung JEC ini pernah lewat di depan kosku?
“Sebaiknya kita mulai dari sini....” tiba-tiba Chanyu menyeretku, agar mengikutinya. Aku segera berjuang fokus dan berkonsentrasi. Chanyu menyarankan agar kita berkeliling gerai-gerai komputer itu urut sesuai jarum jam. Keperluan kita hanya mengambil brosur dari gerai-gerai tersebut.
Kami bergerak seperti detak jarum jam, ke kiri terus-terus dari gerai satu ke gerai lain. Terus ke gerai komputer belakang-belakangnya. Kami empet-empetan gitu lho, saking banyaknya manusia. Aku menceracau, waahhh ini bener-bener busyeettt. Ayo ki ta segera selesaikan mengambil satu persatu brosur. Kita segera pergi dari kerumunan ini.
Pasti EO pameran ini untung keras. Lihat saja besok pagi seputar Jogjakarta dan sekitarnya bertebaran sampah-sampah berisi brosur komputer dan laptop murah. Hulala, efeknya bisa dilihat dari sampahnya.
Btw, tangan-tangan kami jadi penuh kertas brosur. Ini lumayan merepotkan, hati-hati dompet dan tas Anda. Suara pengeras suara dari pojok gedung menggema. Banyak sekali kertasnya, beneran.
Kami berjuang dilautan manusia, agar secepatnya bisa keluar gedung memanjang dan besar ini. Di lantai dua masih ada pameran aksesoris, tapi rasanya aku menyerah deh. Pameran begitu tidak ada nikmat-nikmatnya. Aku juga tidak suka pameran buku, kenikmatan belanja buku adalah berkeliling dengan santai. Mencuri-curi baca buku-buku tipis, chicklit-chicklit atao majalah wanita. Tapi kalau pameran buku sama seperti pameran komputer kayak gini, makasih ya. Aku bobok di kos-kosan aja.
Aku dan Chanyu berjalan keluar dari gedung. Susah juga, tangan kami berserakan kertas-kertas brosur. Huuhh, ada beberapa gerai bank di luar gedung yang telah tutup. Sebenarnya aku mau bilang, perputaran uang di pameran ini lumayan gila pastinya. Beberapa gerai bank menawarkan diri untuk pembukaan rekening. BRI, BNI, Mandiri, BII, BCA. Ada juga ATMnya di halaman JEC. Uang akan beretebaran deh. Wah aku sudah tidak menemukan kata-kata untuk bercerita tentang perputaran uang. Hehehe.
Tapi sekarang 20.30, gerai bank-bank itu sudah tutup. Aku dan Chanyu duduk disana, di gerai BCA yang ditinggalkan petugasnya. Aku melihat wajah Chanyu pucat, kayaknya capek banget. Dia menyusun kertas-kertas ditangannya, dirapikan dan dimasukkan ke dalam ranselnya.
Tapi. Dia mengeluarkan lembaran kertas berwarna kuning. Katanya buatku.
Chanyu ngeprint Wally sedang liburan di pantai, kuning....
Ini dia yang diprint sama Chanyu. Karakter Wally ada di kotak insert itu lho. Ato gambar diatas, cowok berkacamata memakai baju loreng-loreng merah putih.
“aku belum menemukan wally yang disitu..”
“kalau aku menemukan wally disini, aku dapat apa?”
“dapat tepuk tangan..”
Huuuw, ya bolehlah. Tepuk tangan. Baneran ya.
Mari kuceritakan tentang Wally. Ini adalah kartun Where’s Wally. Teka-teki mencari dimana Wally berada. Kami menemukan permainan ini suatu waktu dulu, saat kami jalan-jalan ke Periplus Bookstore di lantai bawah Malioboro mall. Kami keliling di toko tersebut, sedang ngebicarain tentang film Red Cliff adaptasi John Woo yang dibintangi oleh bintang film favoritku, Tony Leung. Soalnya ada novelnya dijual disitu, dipajang di deretan novel klasik, The Battle of Cliffs. Novel tebal kutimbang-timbang, bacanya mabok juga. Novel ini salah satu novel yang wajib dibaca sebelum mati. Sejarah dinasti Han, tiga kerajaan. Jenaka, patriotik plus intrik, iseng dan sejarah dinasti raja-raja China. Kamu pasti juga akan suka.
Chanyu sudah khatam semua novel dan filmnya waktu itu, emang tergila-gila sih. Aku minta dia bercerita. Sambil keliling toko buku, buka-buka sembarangan buku yang didisplay di sana. Buku desain interior yang gambar-gambarnya bagus. Buku-buku masakan negara macem-macem yang gambarnya menggoda. Buku anak-anak. Photo-photo National Geographic. Trus ketemulah kami dengan buku Where’s Wally di pojokan belakang toko tersebut. Semuanya tentang Where’s Wally, dari yang kecil sampai yang ukuran jumbo. Ukuran buku saku saku sampai ukuran A1. Semua bergambar, berwarna, dan dilihatnya menyenangkan.
Kami jadi berhenti ngobrol dan heboh tentang Red cliff. Distraksi: dimana wally. Dimana Wally. Seru lho! Kami sampe terobsesi, mencari dimana Wally berada di antara gambar-gambar itu. Sampai setengah jam berlalu belum juga ketemu!!!!! Walaupun kayaknya permainan sepele, prinsipnya mirip dengan permainan mencari lima perbedaan dari dua gambar yang mirip di majalah Bobo. Ternyata where's Wally lebih susah. Akhirnya kami berjanji mau melihat lagi di internet. Dan yang sekarang diprint adalah Wally sedang liburan di pantai. Begitulah awal mula Wally.
Ntar ah aku cari dimana Wally pemberian Chanyu.
Setelah memasukkan dalam tas semua kertas brosur dan kertas Wally, kami menuju tempat minum. Kami kehausan setelah tadi empet-empetan di JEC. Kami ngobrol ngalor ngidul, hingga waktunya pulang. Dan melupakan brosur-brosur tadi. Chanyu bilang hari terakhir pameran, kami akan kesana lagi. Jadi aku harus sudah membuat keputusan barang apa yang akan dibeli. PRku sampai kos-kosan nanti adalah menyisir brosur-brosur, kemudian menetapkan list kandidat barang yang mau dibeli. Oke, oke.
Aku mampir dulu di ATM mandiri sebelah tempat kami nongkrong. Waktu keluar kotak ATM, aku menirukan setengah berteriak, persis bersamaan saat mesin ATM berbunyi ramah, “Thankyou for banking with us..." "Sama-sama!” Aku menjawab sendiri, kemudian.
Ternyata menyenangkan: menirukan bunyi mesin ATM. Aku merasa jadi manusia. Yeay.
Chanyu berdiri deket pintu, aku lihat dia sedang memainkan tutup botol softdrink. Kemudian aku memergoki dia memasukkan kembali dalam kantong celananya.
“Apaan tuh?”
“Kamu pernah mendengar, ada orang mengumpulkan banyak tutup softdrink. Kemudian menyusunnya dalam sebuah kawat, bisa menghasilkan uang?”
“Are you kiding me?”
Aku mendelik, yaelah yang bener aja kamu mau ngamen..batinku.
“lihat ada rahasia dibalik tutup ini...” Chanyu menunjukkan tutup-tutup itu padaku lebih dekat. Dia menunjukkan tulisan promo, trus belakangnya tertulis “Anda mendapatkan gratis coca-cola ukuran sedang”
“Hah? Darimana kamu dapat sebanyak ini”
“Kan pemulung..”
Ternyata dia menuang semua tutup dari alat pembuka botol di toko softdrink langganannya. Hanya dalam dua hari, Chanyu mendapat 6 tutup botol, masing-masingnya berhadiah 1 botol cocacola ukuran sedang. Canggih juga...
“Mauuu..minta satu.”
Tapi Chanyu membagi dua tutup promo buatku. Aku akan menukarkannya nanti, Cocacola botol ukuran sedang, Gratis.
Lumayan :D
Posted at 03:53 PM in akhir pekan, Books | Permalink | Comments (0) | TrackBack (0)
Reblog
(0)
| |
|
| Digg This
| Save to del.icio.us

Recent Comments