Jam 19.17 Mas Hanif sms kalo akan ke tempatku, sudah nyampe Klaten. Aku kaget, busyet cepet amat. Naik apa? Naik sepeda motor. Aku tambah kaget lagi. Sama siapa? Mas Makin. Ohhh. Oke aku tunggu, di depan rumah makan pondok cabe.
Setengah sembilan mereka menelepon sudah di depan pondok Cabe. Oh canggih juga, cepet sampai.
Aku segera memakai sweater. Trus berjalan kaki kira-kira 100 meter dari kos, menjumpai mereka di depan Pondok Cabe.
Wai Bolaaaaaaaannnngggg!!!!!!!!! Kataku sambil berteriak dari jarak tiga meter. Sukanya bikin kunjungan mendadak. Aku menepuk-nepuk bahu mereka, keduanya cengengesan. Dasar sableng!
Faktual mereka berdua pantes jadi adek, umur mereka 3 dan 4 tahun dibawahku. Keduanya adalah ragil dari kakak ibuku yang nomer satu dan nomer tiga. Jadi tetap saja aku memanggil mereka dengan sebutan, mas mas.
Kami bertiga masuk di rumah makan pondok cabe. Awalnya kikuk malu-malu tapi lama kelamaan kelihatan aslinya. Makan seperti berbulan-bulan tidak makan. Diakhiri teh poci panas, sambil ngobrol-ngobrol.

Ki-ka: Mas Makin, Mas Hanif dan Akyu.
Mas Makin lagi pulang kampung, ibunya pulang haji minggu depan. Kami menghabiskan masa kecil bersama. Dia seperti adek laki-lakiku. Sekarang dia sudah bergaya mas-mas. Tampak seperti pria dewasa pada umumnya. Jarak umur kami memendek.
Mas hanif adalah salah satu yang kena bencana konflik di negara Khadafi. Dia tidak jadi berangkat ke Libya, beasiswanya mau dialihkan ke Maroko tapi keluarga besarku tidak boleh. Katanya, Maroko terlalu liberal. Nanti merusak akidah. Oh yeah.
Dan jadilah mereka berdua di hadapanku, kucel semrawut, senyam senyum pula. Aku geleng-geleng, bayangkan naik sepeda motor dari Ngawi.
Ternyata keduanya tidak merencanakan akan ke Jogja sebelumnya, mereka sehabis bertamasya dari Candi Cetho di lereng gunung Lawu. Naik sepeda motor dari jam satu siang tadi. Setelah dari candi Cetho mereka membuat rute lewat Tawangmangu, eh tidak tahunya malah salah jalan kebablasan sampe Solo. Trus Mas Makin nyeletuk, berani gak ke Jogja mengunjungiku(mereka berdua memanggilku: dek Atik)?
Mas Hanif bilang, berani. Akhirnya, mereka berdua meneruskan petualangan sampe ke Jogja. Mereka bercerita kekonyolan-kekonyolan saat di perjalanan dengan bersemangat. Kadang mereka berdebat dihadapanku untuk sesuatu yang tidak penting, menurut Mas Makin Candi Cetho itu kebudayaan hindu. Menurut Mas Hanif Kebudayaan Budha. Mereka beradu otot dan argumentasi, dan taruhan traktiran di ayam panggang bu Setu. Aku jadi terhibur, berasa di rumah.
Kemudian mereka bertanya, apa aku pulang saat Bu de pulang Haji?
Aku bilang: iya, Insyaallah.
Mas Hanif menceritakan Pak de(panggilan untuk saudara laki-laki atau suami saudara perempuan ibu/bapak yang lebih tua. Pak De, katanya singkatan bapak gede. Bisa juga pak puh: bapak sepuh. Berlaku juga untuk perempuan, Bu De dan Bu Puh). Sewaktu membacakan doa pemberangkatan haji, Pak De menangis sesenggukan. Sehingga suara doanya di pengeras suara tidak bisa didengar, hanya terdengar suara tangisnya. Kami semua jadi geli tapi sedih. Kalian pasti roaming kan?
Begini, ada kisahnya.
Pak De yang jadi topik pembicaraan kami malam ini adalah anak nomor dua di keluarga. Tapi dia anak laki-laki pertama. Dengan segala latar belakang budaya di keluargaku, anak laki-laki tertua adalah pangeran. Tuan muda kecil yang segala keinginan musti dipenuhi. Umurnya seusia bosku di kantor lama. Di jaman mudanya beliau mendapat beasiswa dari mbah kakung untuk bersekolah di Cairo. Itu membuat cemburu sebagian adek-adeknya. Beliau terkenal dominan, otoriter, maunya sendiri tapi sangat royal terhadap siapa saja. Beliau suka mentraktir dan undangan makan-makan enak di rumahnya. Begitu cara beliau menimati hidupnya. Beliau sangat senang dikunjungi rumahnya dan bahagia diperhatikan banyak orang.
Sedangkan Bu De yang sekarang berangkat haji adalah anak pertama. Sekaligus menjadi ibu kedua setelah mbah puteri, bagi semua sembilan adek Bu De. Dia model bagi semua adik perempuannya, setelah tamat SD langsung menikah. Dia berkarakter penyayang, penengah, cinta damai, menjaga kehormatan dan gampang tersentuh hatinya. Karena menjaga kehormatan, anti membicarakan keburukan keluarga, bude hanya bercerita yang baikbaik dan manis-manis saja. Dan kadang-kadang terlalu baik dan kemanisan yang bisa menyebabkan diabetes. No body’s perfect deh. Tapi percayalah padaku, karakter bude sangat gampang disayangi. Karena aura ngemongnya itu memancar dari caranya memperlakukan orang lain. Kapan-kapan deh kalo kalian ke rumahku aku kenalin :)
Nah, pak De menangis sewaktu kakak perempuannya akan berangkat haji. Menangis tersedu-sedu seperti anak kecil ditinggal ibunya ke pasar. Hey, mereka sudah lewat usia paruh baya dan masih saling menangisi. Ya ampyyuunn...
Padahal karakter Pakde yang garang dan ditakuti banyak orang tidak mencerminkan orang yang suka menangis tersedu-sedu. Kami jadi membicarakan, kenapa kok Pak de sampe menangis segitunya?
Menurut analisis mas Hanif, Pak De pengen berangkat naik haji (lagi). Katanya Pak De selalu terharu kalau menghantarkan orang berangkat haji. Tapi keadaan kesehatan beliau tidak memungkinkan. Beberapa tahun terakhir, sudah menggunakan alat bantu untuk berjalan karena penyakit diabetes. Jauh ke belakang sebelumnya, dia pernah kecelakaan yang membuat tulang kering kaki kirinya remuk. Setelah diobati, lukanya bisa kering dan sempat pulih, sayang beberapa tahun terakhir kena penyakit gula. Sehingga kambuh tidak bisa kering sampai sekarang. Kadang, beliau menggunakan kursi roda.
Emang sih, aku jadi inget kalau sedang berkunjung di rumah beliau. Sering banget bercerita nostalgia tentang jazirah arab. Dulu dia juga suka bepergian ke Eropa dan hampir semua negara afrika utara yang berpenduduk muslim. Dia pergi haji setiap tahun, pergi umroh sesukanya dan membolos kuliah untuk menonton konser Ummi Kalsum. Penyanyi favoritnya. Aku percaya ceritanya tidak mengada-ada dari banyak koleksi foto mudanya, naik onta, di bawah eiffel, di kedutaan nigeria, di dorm tempat tinggalnya sampai saat berbaju ihram. Pak De kelihatan modis dan trendi. Pakaiannya necis dan bercelana dengan ujung lebar seperti The Beatles.
Sedangkan lebih dari 20 tahun terakhir, Pak De tidak pergi kemanapun kecuali dalam rangka berobat. Diawali dengan kecelakaan kemudian serangan diabetes. Praktis beliau bergelut dengan sakit 20 tahun terakhir. Dan kursi roda. Padahal Pak de tuh sangat senang berjalan-jalan.
Telah banyak yang berubah di luar sana. Pak De menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, mengkaji dan mengajar beberapa literatur kitab kuning, mewujudkan pembangunan fisik madrasah baru. Beberapa pandangan dan komentarnya tentang kehidupan bersifat nostalgis. Kami semua sudah mulai terbiasa dengan cerita-cerita beliau yang tidak lagi pas dengan jaman sekarang. Dari suaranya yang garang tapi kadang-kadang cedal beliau masih sering bercerita bagaimana hebohnya konser Ummi Kalsum saat itu. Suatu kali kakakku, Mas Haris, kena batunya. Mereka sedang mengobrol tentang politik di televisi. Hingga dalam sebuah kesempatan, maksud hati membuat joke: Nek dados pejabat niku korupsi sampun sunatullah.....(artinya; kalau sudah jadi pejabat, korupsi sudah sunatullah)..eh bukannya jadi humor tapi petaka. Karena Pak De malah marah besar: Tidak ada dalil manapun mengatakan korupsi adalah sunatullah. Korupsi itu dosa besar dan dilaknat Allah swt...
Mas Haris bengong kena marah. Selera humor mereka tidak nyambung alias salah paham. *ziinnnnggggg*
Aku juga mau bilang kalau selera humor Pak De juga perlu di upgrade.
Beliau penggerak wirid shalawat wahidiyah. Sebuah tarekat shalawat yang berpusat di Kedunglo, Kediri. Kalimat shalawat yang paling terkenal dari wahidiyah: Ya Sayyidii ya Rasulullah. Sebuah ajaran shalawat wasilah kepada Nabi Muhammad. Seperti beberapa tarekat lain, shalawat ini juga masih polemik. Sebagian kalangan menganggap shalawat ini berlebihan memosisikan Nabi muhammad sebagai wasilah. Sehingga bisa mengaburkan esensi iman kepada Allah swt. Tapi menurut pengamal shalawat wahidiyah kecintaan kepada Muhammad adalah manifestasi cinta kepada Allah swt.
Kadang saat pemilu beliau dijadikan "medium" beberapa calon untuk berkampanye, apakah fatwanya masih mempan. Politiknya, pragmatis instrumental. Beliau akan mendukung parpol atau calon mana saja yang memberi “bantuan” paling besar untuk pembangunan madrasah.
Seperti yang kuceritakan sebelumnya, Pak De sangat berusaha menikmati hidup. Naluri bersenang-senang bisa sangat ditangkap akarnya, mengingat beliau adalah anak emas. Semua keinginan beliau harus terlaksana, tidak mau ditolak. Terbiasa tercapai kemauannya makanya tidak bisa ditolak. Karakternya memang begitu. Bahkan kegemaran wisata kuliner tidak dibatasi padahal sudah waktunya beliau diet banyak makanan karena penyakit gula. Mana makanan favoritnya adalah protein hewani yang berkolesterol tinggi dan berlemak. Dia tidak mencegah makanan yang dilarang dan tetap merokok.
Yaah nanti kalau sakit diobati, komentar beliau dengan enteng.
Istri dan anak-anaknya, meradang. Tidak ada seorangpun yang bisa mencegah keinginannya. Hingga setahun yang lalu Pak De anfal karena stroke. Mulutnya miring dan bersuara cadel karena syarafnya tidak beres. Sejak saat itu, menurut isu yang beredar, beliau sudah mulai bisa menjauhi beberapa makanan favorit.
Mas Makin menimpali, beliau bisa berangkat haji. Tapi dengan asisten. Beberapa yang bisa diwakilkan dikerjakan asisten, dan membayar Dam. Kan sebenarnya pak De pengen melihat Mekah-Madinah lagi.
Aku dan Mas Hanif berpandangan.
“Wah susah, kasihan asistennya. Pak De tu orang yang maunya banyak,” kataku.
“Yang paling kasihan saat asisten menungguinya beribadah, karena doa wirid Pak De tuh panjang banget. Berjam-jam kalo wiridan,” kata Mas Makin lagi.
Waah gimana ya? Kami bertiga diam sebentar.
“Mungkin asistennya, Mas Dayat saja.” Kataku (Mas Dayat, sepupuku juga, seusia Mas Hanif, anak Pertama Pak De)
“Tapi belum tentu Mas Dayat Mau, lagian daftar haji jaman sekarang susah. Antriannya juga panjang. Kecuali pakai ONH plus tapi kan mahal.” Kata mas Hanif
Wah Pak De, Pak De. Kami beranjak dari pondok cabe jam 10, aku tidak enak pulang terlalu larut. Soalnya penjaga kosku sedang sakit, kasihan kalau harus bukain gerbang setelah jam sepuluh. Mas Hanif dan Mas Makin tidur di kos-kosan temennya di sekitar keraton.
Besok pagi-pagi mereka berdua kuajak joging di area kampus.
“Kutunggu jam 5 atau setengah enam ya, awas kalao mbangkong ...” kataku mengancam.
Recent Comments