Hari ini aku menggalau. Di tanggal yang sama, bulan lalu, ibu tiada. Mengingat ibu selalu membuatku bersedih. Penjelasan nalar membuatku tidak bisa memaafkan diriku. Kenapa aku tidak pernah menyarankan ibu general check up di laboratorium setelah umur 50 tahun. Kenapa oh kenapa.
Dalam keterbatasan fantasinya ibuku selalu punya cita-cita. Di usia tertentu dalam hidupku, kami dekat secara perasaan. Walaupun semakin menjauh secara penalaran. Apa yang kulihat tidak sama dengan yang dilihat ibu. Atau apa yang dilihat ibu tidak aku lihat. Komunikasi adalah tuas-tuas yang menumpu jungkat-jungkit diantara kami. Jungkat-jungkit kehidupan dengan ibu dan anak perempuannya. Tanpa berpanjang lebar kami saling mengerti posisi penderitaan, konsep kebanggaan dan songket-songket bagus untuk datang ke pesta. Walaupun dalam banyak hal, aku lebih sering tidak berguna.
Aku mencintainya.
Dua malam sebelum beliau meninggal, aku naik dalam pembaringanya setelah perawat yang mengukur tensi ibu meninggalkan kamar. Ibuku minta AC kamar rumah sakit dimatikan, padahal aku merasa sedikit panas. Saat itu sudah lewat jam sebelas malam, mba Naim sudah tertidur di sofa. Pasti dia kecapekan juga, Mba Naim adalah orang yang paling punya integritas menjaga ibu. Aku setiap siang kembali ke Jogja.
Mungkin ibuku sedang merasa sakit sekali. Katanya dingin, padahal AC sudah mati. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, aku tidak bisa mencium bau tubuhnya. Tapi aku mencium bau rambut yang tidak keramas 9 hari. Di pembaringan rumah sakit itu aku tidur bersebelahan dengan ibu, aku tiduran miring menghadap ibu. Kurasa ibuku tidak tahu lagi, caranya mengeluh rasa sakitnya. Biasanya beliau minta kami, anak-nak yang sedang berjaga, agar memijit kakinya. Memijit tangannya, mengambilkan minuman atau tisu. Kini tidak lagi. Beliau hanya diam, kupikir waktu itu karena pengaruh obat.
Ibuku tidur telentang, infus di pergelangan tangan kanan. Tiba-tiba tangan kiri beliau mencari-cari sesuatu, aku membiarkan saja. Tangan kiri itu masuk meraba-raba tubuhku. Aku diam saja. Ibuku masih diposisi yang sama. Tidur telentang, matanya terpejam. Kemudian ibuku berhenti ketika menemukan lenganku. Beliau memasukkan telapak tangannya ke sebuah celah diantara lengan dan pinggang. Kemudian tangan kiri beliau berhenti bergerak.
“Aku titip muna” kata beliau. Beliau menyebutkan nama adikku.
Aku bilang, “Ibu cepet sembuh ya, mboten usah katah mikir.”
Ibuku bilang lagi, “Titip muna” dengan suara yang tidak konsentrasi.
Aku tidak punya pilihan selain bilang, “Nggeh buk..”
Waktu itu, aku masih berpikir ibuku sedang halusinasi obat setelah operasi. Ibuku masih 52 tahun. Sedangkan angka harapan hidup nasional adalah 70,76 tahun. Apalagi ibuku bukan orang yang sakit-sakitan dalam hidupnya, masih jauh. Beliau energik dan suka melakukan aktivitas rumah tangga. Bahkan aku tidak pernah melihat ibuku mengeluh sakit gigi.
Tapi. Bukan begitu suratan takdir.
Sekarang aku tahu manfaatnya percaya takdir: memaafkan. Terbukti hanya perspektif itu yang membuatku lapang menghadapi kehilangan. Dan penderitaan.
PS: ini postinganku kok berkucuran air mata yaaa...moga2 tidak lagi begini perasaanku.
Recent Comments