Mungkin emang kebawa angin akhir tahun, bawaannya bicara rencana-rencana. Bulan Januari melambai-lambai dari kejauhan, menebarkan aroma kekejaman ...errrrr
Selain dengan Puri barusan, kemarin aku juga ngobrolin tema ini dengan Chanyu. Soal rencana tapi settingnya beda. Chanyu adalah anak muda pintar. Bahkan sangat pintar. Dan sangat tahu apa yang diinginkannya tanpa memedulikan pendapat orang lain. Aku selalu melihatnya dengan kekaguman atas apa yang dia sukai. Menunjukkan betapa dia sangat menikmati hobinya secara total. Aku belajar banyak darinya mengenai perspektif menikmati hidup.
Sewaktu dengan Chanyu, aku ngobrolin rencana liburan akhir tahun. Chanyu merasa tidak menarik liburan akhir tahunnya karena tidak merencanakan sendiri. Dia tinggal ngikut orang tua, kemana mereka mau merencakana liburan. Aku bilang ke Chanyu, aku pengen direncanakan biar tidak capek.
Kata Chanyu, enakan juga merencanakan sendiri.
Capek banget harus bertanggungjawab kayak orang berumur 40 tahun pusing dengan rancana sendiri. Aku kan juga pengen santai-santai, kataku.
Kata Chanyu, aku hanya mbayangin enaknya direncakan liburan akhir tahun saja, bukan direncanakan dibagian lain. Direncakana itu artinya kamu menggantungkan harapan dan kegagalan pada oranglain, tapi nanti bisa frustasi dan tertekan dengan rencana oranglain. Kekecewaan bisa kuadrat berlipat ganda.
Tapi kan enak tidak usah bertanggungjawab, kataku.
Tapi frustasi harus membuktikan untuk sesuatu yang tidak benar-benar kamu inginkan, kata Chanyu.
Ohhhh, kenapa kamu tidak menikmati saja. Itu artinya orang tuamu berorganisasi sangat bagus. Kamu dipersiapkan..
Chanyu membalas dengan simbol :( :( :(
Yep. Obrolan tentang rencana ternyata merembet ke isu-isu yang semakin rumit. Manusia membawa benang kusut di kepalanya. Padahal kebahagiaan sangat sederhana: membangun percakapan kemudian menyadari perasaan kita bisa diakses dengan percakapan. Heemm...mungkin kami hanya perlu mengobrol saja. Semacam membuang air setelah berkumur.
Barusan aku ngobrol dengan Puri. Kami saling bertanya tentang rencana tahun depan. Oke, aku dan Puri adalah kelas pekerja. Kelas pekerja itu banyak bekerja untuk orang (hal) lain. Kami berada pada sebuah sistem yang terencana, menghadapi pekerjaan yang nyata dan memperoleh gaji untuk bersenang-senang (kadang-kadang kalau bisa).
Obrolan masih seputar rencana. Obrolan khas pekerja adalah taktis, konkret dan nyata. Apa rencanamu?
Sayangnya aku tidak bisa cerita gamblang. Puri memiliki rencana yang oke. Setidaknya daripada rencanaku. Salah satunya jika akhirnya aku harus kuliah di almamater lamaku. Tapi itu kemungkinan paling buruk.
"Itu rencanamu?"
Rencana paling buruk, kataku.
"Di tengah mimpi dan rencana, ada yang namanya kerja keras," kata Puri.
Kata-kata itu emang terdengar klise, tapi sangat berarti jika yang bilang adalah sobatmu. Itu artinya dukungan.
Waaahhh, aku jadi malu. Puri bekerja di Jakarta, di sebuah LSM radikal mengurusi kasus-kasus HAM. Apa yang dia kerjakan tampak bukan isu kelas pekerja, tapi dia juga pekerja. Naik KRL setelah subuh, bekerja hingga larut bahkan akhir pekannya. Dan karena dia adalah pembela hak-hak orang lain, dia mengabaikan hak-haknya sendiri. Para pembela tidak ada yang membela. Tapi dia selalu punya rencana untuk dirinya sendiri.
Rencana adalah sebuah fantasi, bahwa kita masih mampu mengorganisasikan diri sendiri di tengah sebuah sistem besar. Sistem yang sangat besar, kuat dan tua. Yes, mari berorganisasi ;)


Recent Comments