Editorku adalah seorang professor demografi sosial. 2/3 umurnya dihabiskan untuk membicarakan tabel dan grafik. Umurku, kira-kira 1/3 dari umurnya. Maklum tulisan demografi pertama. Awalnya, aku tertantang dengan ilmu baru. Aku memang lebih akrab dengan isu sosial “kebudayaan”. Daripada sosial “ekonomi”. Banyak buku-buku yang baru saja kubaca untuk bahan perspektif analisis tulisanku. Aku kurang investasi untuk menulis ini huhuhu... aku lebih akrab membaca filsafat daripada analisis demografi. Lebih akrab dengan teks narasi daripada grafik. Otakku terpecah-pecah. Aku berada pada sebuah percabangan gaya dan tradisi intelektual. Tapi, hal terberat bagiku adalah berhadapan dengan pola pikir yang telah mengakar pada sang editor. Editor kan bukan komputer, dia juga punya jiwa. Jadinya dia juga punya naluri untuk mengkritisi dan mempengaruhi.
Tradisi sosiologi cenderung menulis dengan cara snow ball, hingga bola salju jadi sebuah bentuk yang solid. Dia menggulung-gulung diantara salju-salju lainnya agar mendapatkan bentuk yang lebih besar dan tidak gampang pecah. Sedangkan tulisan demografi selalu melihat data dan narasi sebagai sesuatu yang berhadapan. Sehingga perlu penyajian yang berpisah, narasi dan data. Tabel dan analisisnya. Bahkan jika aku memasukkan unsur-unsur wawancara mendalam harus dipisah dengan narasi analisis. Aku harus menulis hasil wawancara dengan format berbeda dan tidak lupa kumasukkan dalam box. Editorku, meneliti huruf kapital dalam penulisan nama hingga substansi. Dia membenarkan menulis footnote sampai pemilihan kosakata. Misal aku menggunakan kata “dipecat” maka dia menyarankan kata “diberhentikan”. Oke, harus diakui aku memang menulis lebih efisien, sopan, dan taktis. Tapi aku merasa kehilangan diriku sendiri. Kata editorku, begitu selayaknya standar menulis ilmiah.
Selain laptop, ia hampir selalu membawa buku-buku tebal data BPS dalam tasnya. Hasil SENSUS atau SUPAS. Juga data-data kemiskinan hasil survei World Bank. Buku yang hampir semuanya berisi grafik dan angka-angka dalam tabel itu merupakan harta karun baginya. Bahan untuk produksi. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja. Dia mengontrol eksistensi kantor, membaca dan menulis demografi, mengisi seminar dan mengajar di kampus atau di luar kampus.
Pesan moral favoritnya adalah jujur dan disiplin. Dia merasa dikhianati jika orang yang bekerja dengannya tidak jujur dan disiplin. Aku mengingatnya, karena ia selalu mengulang-ulang pesan moral itu saat marah(aku sering kena marah karena tidak disiplin a.k.a telat masuk kantor hehehehe ). Ia jarang sakit dan selalu datang tepat waktu. Bahkan kalau di kantor dia datang setengah jam sebelum jam kantor. Saat mengajar, ia tidak membolehkan mahasiswa terlambat masuk dalam kelasnya. Ia juga mengurusi segala sesuatu yang ada di kantor. Nyaris semuanya dia pikirkan. Mulai dari penggajian sampai cara penulisan absen di kantor. Memesan sendiri semua tiket pesawat kami sampai mengontrol materi fieldwork. Dan bahkan dia mengedit ulang semua tulisan yang telah diedit oleh seorang editor yang telah dikontrak sebelumnya. Umm dia mengurusi segala sesuatunya agar sesuai dengan perhitungan yang direncanakan.
Oh iya, dia tidak terlalu suka bergaul. Entah kenapa persisnya, tapi aku melihat mata kekecewaan dalam dirinya. Dia sangat gampang dibuat kecewa oleh oranglain. I saw desire of perfection in him. Ia marah-marah karena melihat oranglain tidak bekerja segiat dan sebaik dia. Karakter pekerja keras dan disiplin yang dimilikinya, membuat ia bukan orang dengan tipikal yang suka berbelas kasihan. Sehingga berpengaruh terhadap imajinasinya tentang moral dalam pergaulan. Dengan berpegang teguh standar kualitas moral tertentu, membuatnya gampang kecewa. Intinya tidak gampang membuatnya lega.
Contohnya nih. Sebagian besar alasan absent dari kantor bisa dimentahkan. Kalau ada yang ijin sakit, dia mengeluhkan keberadaan si sakit yang sakit-sakitan. Kalau ada yang ijin urusan keluarga, dia menganggap tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Alasan yang merugikan pekerjaan selalu dimentahkan olehnya. Itu kenapa, aku bilang sebelumnya dia tidak suka berbelas kasihan. Dia tidak mau rugi atau dia selalu melihat dalam kerangka moralnya saja. Pertama, dia emang jarang sakit jadi dia ga terima kalau ngelihat orang sakit. Kedua, relasi afeksi keluarga yang dijalaninya tdk semesra orang-orang pada umumnya. Baginya tidak masuk akal mengorbankan disiplin kerja untuk keluarga.
Atau kadang dia bercerita keburukan si A kepada si B saat si A tidak ada. Dia juga membicarakan si B disaat yang lain. Atau membicarakan skandal beberapa orang terkenal. Pembicaraan tentang oranglain jadi lebih suram dari yang sebenarnya. Sebagai praktisi ilmu dia sering membicarakan sebuah fenomena dengan perspektifnya yang kritis (baca;sinis). Dia tidak membiarkan apa yang dilihatnya keluar dari kerangka rasionalitasnya.
Orang-orang yang datang kepadanya saat di kantor adalah mahasiswa bimbingan, kurir surat dan tiket pesawat, orang-orang yang mengundangnya jadi pembicara.
Ada satu orang yang menjadi idolanya. Bung Karno. Dan ada satu orang lain yang selalu dikata-katai buruk olehnya. SBY.
Bekerja dengannya membuatku merasa terlibat dalam sebuah permainan ular tangga.


ho oh, wes mendalam je hahaha aku kan ngirim tulisan ini ke beberapa temen kantor. mereka semua jd berkomentar ttgnya dengan berbagai perspektif.
ada salah satu sudut pandang yg lucu. dari salah satu temenku yang selalu dateng pagihari. temenku biasa dateng paling pagi diantara kami atau biasanya hampir berbarengan dg sang editor. katanya, dia selalu punya rutinitas. dia selalu mematikan lampu tempat sembahyang. padahal lampu itu sudah padam. tapi ketika datang dia langsung menyambar saklar dan berusaha mematikannya. padahal emang udah mati. atau menutup pintu ruangan itu dan ruangan sampingnya. selalu begitu, punya rutinitas tertentu. temenku diem aja, pura2 bego gak tahu. dia diem2 aja padahal mbatin juga. hahaha durhaka
soale, kata temenku kalo udah pikun nanti. sang editor bisa kayak nenek temenku yg sudah sepuh di kampung.dia selalu menyiram ruang tengah rumahnya dengan air. karena masa mudanya selalu menyiram bunga tiap pagi. hahaha waktu tua dia mengingat rutinitas itu dg bentuk berbeda. karena temenku anak psikologi dia punya bahasa untuk menjelaskannya, yaitu OBSESIVE COMPULSIVE. OOOhhh....kami semua jadi ngakak, antara nyeri, geli dan satire.hahahahaha kayak apa ya nanti kalo kita udah tua?
Posted by: museum cerita | Jan 08, 2011 at 08:52 PM
Sepertinya aku kenal mbak siapa beliau ;), sebegitu mendalamnya ya kau mengenalnya saking seringnya kerja bareng
Posted by: Account Deleted | Jan 07, 2011 at 09:07 PM