Aku merasa perlu menulis apa saja. Agar bisa kubagi dengan kalian. Ajaib, melakukan ini(menulis blog) membuat hidupku lebih ringan. Menulis membuatku merasa dinamis. Walaupun aku melakukan banyak perjalanan. Liburan panjang. Piknik keluarga. Pekerjaan-pekerjaan rutin, senin-jumat. Pekerjaan-pekerjaan lapangan. Bertemu dengan komunitas dan orang-orang baru. I love writing becoz Quite but dynamic. Aku seperti telah meletakkan masa lalu, obsesi, perasaan bersalah, ilusi, atau pikiran-pikiran tidak beraturan dalam sebuah sudut kecil semesta. Disini :)
Ada banyak yang mau kuceritakan. Tapi sepertinya musti pelan-pelan. Biar gak kacau berhamburan. Dimulai dari review buku ya. Salah satu yang berkesan adalah Korea Unmasked karya Won-bok RHIE.
Won-bok Rhie adalah kartunis masyhur di Korea(selatan). Kartun grafisnya kebanyakan berisi sejarah, budaya, ekonomi, politik negara-negara di Asia dan Eropa. Buku ini menjadi master piecenya “Korea Unmasked – In search of the country, the society and the people”. Bagiku menarik, orang Korea menulis tentang Korea. Selama ini aku selalu kecewa dengan penulisan sejarah orang local. Seringkali mereka terjebak dalam romantisme yang memabukkan. Rhie dalam kartun grafis tersebut berperan sebagai guide para pembaca. Dia memerankan dirinya sendiri, menampilkan sejarah seperti sedang bercerita kepada khalayak. Dia ekspresikan kebingungan, ketertarikan, kecemasan, kemarahan dengan gayanya. Rhie menginterpretasi kebudayaan. Menjelaskan disparitas ekonomi dengan baik dalam hitungan-hitungan. Dan memprediksikan kemungkinan-kemungkinan.
Selain sudut pandang mendongeng dalam kartun grafis ini, hal yang membuatku terkesan adalah caranya mendeskripsikan. Yaitu dengan membuat karakteristik dan kekhasan sebuah realitas budaya, ekonomi atau politik. Aku memang sedang menekuni metode menulis dengan cara ini. Lebih menguatkan menjawab pertanyaan apa daripada buru-buru menjawab pertanyaan kenapa. Pertanyaan apa akan banyak menceritakan ciri-ciri, karakteristik dan keadaan sebuah realitas.
Misalnya di chapter awal, sewaktu dia membuat gambaran tentang Korea dengan membandingkan dua negara terdekat. Neighbors but Strangers: Korea, China, and Japan. Hahaha judulnya aja lucu kan? Pendekatan dengan membuat karakteristik membuatku lebih gampang dalam membedakan kebudayaan negara-negara tersebut. Dia menjelaskan perbedaan ketiga negara. Seru karena dia melihat perbedaan tersebut dalam simbol-simbol sederhana masyarakat kebanyakan. Rhie menjelaskan perbedaan ketiga negara dengan pengamatan yang empatik dan jeli. Apalagi dia memosisikan diri sebagai pendongeng dalam buku ini.
Lihat ni perbedaan cara berpakaian mereka.
Trus alat makan yang dipake :)
Perbedaan agama JUGA
Hingga sikap budaya masyarakatnya
Setelah puas dengan cerita perkenalan dengan membandingkan tiga negara di Asia Timur, Rhie masuk ke pengamatan seputar masyarakat Korea. Aku coba membayangkan agar bisa kujelaskan apa yang membuat buku ini menarik. Oh iya, seorang pencerita kebudayaan musti paham tentang sejarah dan lika-liku realitas yang diceritakan. Kalo perlu sampai gang-gang sempitnya, bentuk trotoar, persaingan antar tetangga, topik obrolan saat nongkrong dengan keluarga, hingga jumlah Gereja di setiap jalan. Dalam buku ini bisa diceritakan dengan apik dan menarik.
Terutama karena kemampuan Rhie mengeksplorasi akar penyebab sikap-sikap seperti itu. Dan berhasil menjelaskan pada pembaca bahwa fitur geografis dan latar belakang sejarah telah berkontribusi terhadap sifat nasional bangsa Korea. Misalnya, kenapa orang-orang Korea cenderung bersikap ortodok dan ekstrim. Dia menjelaskan karakteristik masyarakat yang tinggal di semenanjung (peninsula in english). Mereka sering bertahan dari invasi musuh jadi sikap defensif, menjaga orisinalitas menjadi kualitas yang dimiliki masyarakat Korea. Termasuk dalam sejarahnya mereka harus menghadapi gempuran dinasti Han dari China, invasi Jepang , mongol, hingga invasi negara-negara eropa.
Bab selanjutnya, diceritakan tentang pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan pada tahun 60-an. Hal tersebut berimplikasi pada kegilaan masyarakatnya untuk melibatkan anak-anaknya dalam kegiatan pendidikan. Baik formal maupun non formal. Anak-anak diikutkan kegiatan ekstrakurikuler baik pendalaman materi sekolah hingga keterampilan-keterampilan. Mulai bermusik sampai menyulam. Sebelumnya Rhie juga menyinggung isu reformasi politik mantan presiden yang disengketakan Park Chung Hee di tahun 1960-an, yang mendorong pertumbuhan ekonomi di satu sisi, tetapi memperlambat proses demokratisasi di sisi lainnya. Proses kontradiktif tersebut kayaknya emang banyak terlihat di berbagai negara. Aku jadi inget kasus di China saat kepemimpinan Deng Xio Ping. Atau Indonesia saat Soeharto?
Keoptimisan Rhie bahwa Korea bisa menjadi negara No. 1 di Asia menurutku perlu dikritisi. Melihat won tidak terlalu bagus nilai tukarnya hingga krisis Korea(utara dan selatan) yang belum berhenti sampai sekarang.
Bab terakhir dia memang menyinggung tentang kemungkinan bersatunya Korea Selatan dan Korea Utara. Dibagian ini, Jerman dijadikan sebagai Role model.
Rhie membuat kemungkinan-kemungkinan dilakukan reunifikasi di Korea. Akan tetapi kita semua juga melihat tarik ulur kedua negara telah semakin jauh. Perbedaan ideologi negara. Akar perpecahan pasca perang dunia masih saja tersisa. Hingga disparitas ekonomi dua negara tersebut semakin jauh. Apalagi setelah uji coba nuklir tahun 2005 Korea Utara kena sanksi embargo internasional. Yang terbaru adalah November tahun lalu(24nov2010) terjadi baku gertak antara kedua belah pihak. Ketegangan dimulai sejak dari Agustus 1953 ketika Korea Selatan dan USA secara sepihak menarik garis batas negara yang terlalu dekat dengan wilayah Korea Utara. Hal tersebut menyulut protes dan konflik sampai sekarang.
Bagian terakhirnya tidak terlalu kusuka. Soalnya kelihatan Rhie hati-hati dalam menjelaskan kasus krisis Korea. Atau dia sudah kelelahan diakhirnya ya :).... Tapi hal yang menarik masih tentang cara membuat analisis permasalahan. Rhie membuat perbandingan-perbandingan seperti di awal dia biasa lakukan. Bagian ini menginspirasiku.
Finally, aku sarankan buku ini untuk dibaca pokoknya. Hahahaha. Ternyata aku yang kelelahan. Kebanyakan ceritanya ya. Mana up load photonya lemoot.eh temen2ku banyak yang tergila2 sama Korea. Terutama karena film atau serial dramanya yang manis. termasuk ponakanku, si Aufa, yang men-suggest-ku agar ikut dalam grup kim bum lovers hahahaha....aku malah roaming. Tapi setelah membaca Korean Unmasked, aku jadi pengen berkunjung ke asia timur..........haiya.
Btw, Selamat membaca ^ ^ b


he eh, buku ne emang bagus wi. bentuknya narasi graphic. kamu boleh pinjem wes...
Posted by: museum cerita | Jan 20, 2011 at 12:18 PM
Bukunya bikin penasaran mbak, dari dulu aku juga sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih bedanya Korea, Jepang sama Cina juga penasaran sama sejarang hubungan mereka
Posted by: Account Deleted | Jan 18, 2011 at 08:49 PM