Aku berdiri membentuk jajaran berantai. Ibu-ibu embah-embah dusun Candirejo berkulit coklat, ramping tapi kuat. Kami udah mulai merasa berat, lengan tangan jadi popeye, mengangkut campuran material semen dan pasir. Didepan dan sampingku ibu-ibu muda, embah-embah, tersenyum-senyum. Butiran-butiran keringat sebesar beras menghiasi wajah mereka, di dahi, hidung dan pelipis.... Mata mereka berbinar,..
”asmane sinten mbah...?’
”asmane sinten bu...?”
Tanyaku SKSD(sok kenal sok dekat), udah mulai bosen senyum-senyum tanpa pembicaraan. Ada ibu-ibu berbaju merah bernama, Ngatini. Embah-embah tinggi lencir, beberapa giginya udah tanggal bernama Mbah Walinem. Mereka senang diajak salaman dan ngobrol-ngobrol. Dan ditanya ini itu. Siapa nama mereka? Gimana saat merapi meletus? Berapa anak mereka? Disebelah mana mereka tinggal? Apa nama sungai yang biasa jadi MCK itu? Dsb. Dsb. Yang sangat khas dari mereka adalah tawaran spontan seperti ini, “monggo pinarak dateng gubuk kulo....” mereka pasti menawariku agar mampir ke rumah mereka. Sambil memberiku petunjuk ancer-ancer disebelah mana rumah mereka. Agar aku tidak bingung. Aku cengarcengir aja, tetep gak tahu dimana persis rumahnya.
”Kulo Dariah ...”
”waah kulo Izzah, mbah. Mirip nggih jeneng kulo....”
Hehehe kataku pada embah-embah bertubuh kurus disampingku. Dia menggunakan udeng kain di kepalanya. Berkulit bersih coklat. Tingginya sepundak. Tinggi tubuhku, 158 cm. Jadi kalian bayangin sendiri berapa tinggi badannya jika sepundakku. Namaku kan juga terdengar sama, diakhiri dengan ah. Dariah. Izzah. Nah jika dilafalkan akan terdengar sama. Coba deh kalian lafalkan. Ulang-ulang ya.
Gimana? Iya kan?
Tapi walopun aku sudah melafalkan namaku hati-hati, memirip-miripkan pula, tetep aja mbah Dariah memanggilku dengan panggilan, mbak risa...
Mbak risa, mbak risa...
Mbak Izzah. Mbak Risa. Mbak Izzah. Mbak Risa. Mbak Izzah. Mbak Risa. Okay, kadang-kadang terdengar mirip juga kok. Hahahaha....ya weslah, apa mau dikata.
Mbah Dariah tinggal di ujung bukit menoreh sebelah selatan. Dia adalah ibu pak Sudianto. Kepala RT yang mengorganisir kerjabakti. Kami datang ke rumah mbah Dariah untuk rehat makan siang. Kami disuguhi mi instan rebus(mereka menyebut mi instan dengan sebutan Sarimi. Padahal merek mi instan yang dimasak adalah Nikimiku), tempe goreng, dan sayur sawi kuah. Dan teh manis Panas kebul-kebul. Hujan turun siang itu, kami kelaparan. Hajar makanan itu semua selagi masih panas, seperti gak pernah makan berhari-hari. Selesai makan berbakul-bakul, kami kelekaran di atas tikar.
Sekitar jam 13.00. Di luar hujan. Ngecor jalan tidak mungkin diteruskan sekarang. Nanti malah jadi ambyar materialnya. Jadi kami menunggu kerjabakti dimulai sambil tiduran, hhmmm ngantuk siyat siyut. Kenyang, capek dari pagi angkut-angkut, macul dsb, diluar hujan. Temen-temenku terlelap di alam baka atau alam nestapa, gak jelas semua muka-mukanya...
Aku pengen pipis. Aku menuju ke belakang sekalian nunut wudlu buat shalat dhuhur. Mereka kelihatan bingung saat aku harus pipis segala, ternyata MCK mereka harus keluar rumah. Lebih tepatnya di pinggir kali beberapa meter belakang rumah itu. Padahal di luar hujan. Aduuuh, gimana nih kami jadi gak enak hati. Akhirnya aku diajak ke kamar mandi mbah Dariah.
(Kelak aku tahu. Kalau Rumah tangga ini memiliki dua KK/kepala keluarga. Walaupun satu rumah ternyata ada dua dapur. Rumah depan yang lumayan baru jadi tempat tinggal pak Sudianto dan anak istrinya. Rumah belakang dari gedek bangunan yang lebih tua jadi tempat tinggal mbah Dariah dan suaminya. Walopun satu atap masing-masing KK sudah memiliki dapur sendiri. )
Ruangan itu terbagi menjadi tiga bagian. Kamar mandi mbah Dariah gak ada penutupnya. Tapi ada bak besar terbuka buat nampung air. Bagian sampingnya pawonan dari tanah liat buat memasak dengan bahan bakar kayu. Sisi lainnya untuk menaruh kayu bakar dan daun pandan yang telah direndam dan dikeringkan.
Mbah Dariah menungguiku dari sisi luar ruangan lain selama aku pipis. Waktu akan shalat, mbah Dariah meminjamiku jarik. Karena menurut beliau, celanaku sudah kotor dibuat kerjabakti dari pagi. Nanti shalatku gak absah. Aku sih manut-manut. Mbah dariah ngajari aku pakai jarik agar tidak gampang melorot. Cara membuat ikatan dan membuat putaran agar rapi. Aku shalat diatas balai-balai bambu di dalam kamarnya. Ada ayam berkeliaran di bawah balai-balai. Aku tidak konsen, malah menghitung berapa jumlah ayam dibawah situ. Bukan, maksudku anak ayam ding. Ada tiga anak ayam tanggung, yang mulai disapih oleh induknya. Berjalan-jalan dibawah balai-balai tempat aku shalat.
Selesai itu, mulailah kami ngobrol-ngobrol.
”Mbah jenengan yuswane pinten?’
(mbah anda umurnya berapa?)
Mbah Dariah memulai menjawab dengan tertawa. Gigi-giginya menyembul, masih utuh berwarna kuning tua. Dia tidak tahu pasti.
”hehe duko. Nek mboten seket geh sewidak..”
(gak tahu.kalo gak limapuluh ya enampuluh..)
Okay. Mari probing, menghitung lebih jauh. Aku bertanya kapan menikah. Di umur berapa menikah?
(Pernikahan merupakan momen yang sering diingat oleh para perempuan. Umm aku tidak mau berasumsi, kenapa. Tapi selama bertemu dengan orang-orang dan terbentur soal umur, terutama perempuan, akan sangat gampang terlacak jika dimulai dengan pertanyaan kapan menikah.)
Ini dia ceritanya: Mbah Dariah menikah ketika umur dua belas tahun. Dia belum menstruasi ketika itu. Baru sepuluh tahun kemudian beliau melahirkan Pak Sudianto. Sekarang umur Pak Sudianto sudah 36 tahun. Hitungannya berarti; 12+10+36= 58 tahun. Yaah tentu saja tidak presisi, tapi lumayanlah buat kira-kira. Mbah Dariah tidak terlalu peduli dengan umur, dia tidak tahu tanggal lahir dan tahunnya. Pokoknya, kalau beliau jadi pegawai negeri berarti udah pensiun.
Menurutnya yang paling penting adalah anak cucunya tidak berantem, dan bisa hidup mencukupi sandang pangan papan sehari-hari.
Apa yang dicita-citakan mbah Dariah universal kan? Semua orang di umur sekian juga menginginkan cita-cita yang sama. Mereka telah separuh baya, anak-anak mereka telah berumah tangga, para cucu telah lahir, dan mereka harus tetap mandiri karena anak-anak mereka juga baru saja membangun rumah tangganya.
Umm, bagaimana mbah Dariah bisa mencukupi hidupnya?
Ini dia analisis kemiskinan tidak pernah tuntas. Mulai dari menghitung kalori, menghitung perimabngan pendapatan-pengeluaran rumah tangga, sampai kepemilikan lahan. Apapun usaha teoritisi tentang kemiskinan tetap menuai polemik. Sudut pandang ekonomi A.K.A kepemilikan material sangat penting tapi jelas bukan satu-satunya perspektif.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Dariah menganyam tikar dari daun pandan. Bukan Daun pandan yang buat campuran penyedap makanan lho, tapi daun pandan berduri. Biasa ditanam dipinggir wilayah selain sebagai pembatas tanah, juga mengurangi resiko longsor. Tumbuhan pandan sebagai bahan tikar mirip tanaman nanas dari kejauhan. Tapi tekstur daunnya berbeda. Para perajin mengambil daun-daun itu, kelihatan liar, banyak banget disekitar lahan kosong. Direndam kemudian dijemurnya. Hingga bisa dijadikan bahan dasar tikar.
Di rumah tersebut, hanya mbah Dariah yang menjadi penganyam. Beliau mulai menganyam jika tidak ada pekerjaan, misalnya memasak dan bersih2 rumah, membantu tetangga hajatan, kerjabakti kayak tadi dll. Paling produktif, beliau menghasilkan dua tikar pandan. Satu tikar dijual 70ribu. Kalo dua ya berarti 140ribu/bulan. Itu kalo produktif, tapi rata-rata beliau Cuma dapet satu tikar. Itupun beliau harus menjual tikarnya sendiri ke pasar. Dijual eceran sedapetnya.
Waktu Mbah Dariah menganyam aku duduk disampingnya. Di atas dipan dari bambu yang dialasi dengan tikar pandan.
”Wah kados ngenten to klosone nek sampun dados?’
(wah kayak gini ya kalo tikarnya udah jadi...” gumamku berkomentar sambil mengelus-elus tikar yang kududuki.
”enggih. Tapi niki cacat leh ndamel. Mboten payu disade..”
(iya. Ini kesalahan anyam. Enggak laku dijual...)
Oh iya. Barang cacat produksi dipake sendiri, yang bagus-bagus dijual. Mbah Dariah kelihatan terampil. Tangan-tangan kecil cekatan, menyusun pandan-pandan kering dengan jemarinya. Sepetak-sepetak. Aku memujinya telaten, hebat punya keterampilan kayak gitu. Pernyataan itu terlontar begitu saja. Tapi responnya lain. Pekerjaan telaten kayak gitu hanya untuk orang yang gak ada pilihan lain.
Satu; mungkin Mbah Dariah sedang bersopan-santun ala Jawa. Ato Coba deh dibaca lagi ”pekerjaan telaten itu hanya untuk orang yang gak punya pilihan”....
Yahhh silahkan dibaca sendiri apa maksudnya hehehehe
(Dan why me? Dalam kepalaku berisi tentang keterampilan-keterampilan. Modal sosial. Aku tertarik sebagai tamasya, seru kalo punya keterampilan menganyam. O my goodness.)
Selain menganyam tikar pandan, sehari-hari mbah Dariah ”dicukupi” dengan menjual bunga kenanga. Bunga kenanga biasa digunakan sebagai sesajen ritual upacara, dekorasi pengantin dll. Mata pencaharian yang kedua ini hampir semua dilakukan oleh para penduduk di situ. Dan sayangnya Kenanga tidak bisa panen. Karena pohon-pohonnya pada tumbang dan rusak kena gempuran merapi. Mereka memanen kenanga setiaphari dari kebun-kebun belakang atau pekarangan rumah. 5-15 kilogram perhari. Harga perkilonya gak mesti, karena masih mengikut jumlah panen. Kadang dijual sangat murah 5000/ kilo. Tapi saat merapi meletus, bunga kenanga jadi langka. Harga per kilonya melambung. Sayangnya tidak ada panen kenanga.
Beruntung Mbah Dariah masih memiliki keterampilan menganyam tikar pandan, jadi gak melulu bergantung dengan Kenanga. Ada beberapa tetangga yang kehilangan mata pencaharian selepas bencana merapi. Semisal, Bu Ngatini. Dia kehilangan pemasukan harian utama karena pohon kenanga rusak semua.
Untungnya lagi, mbah Dariah punya pekarangan yang ditanami singkong, talas dan pepaya. Sayuran bisa diolah dari belakang rumahnya. Beliau juga memiliki ayam dan kambing hewan ternak. Hewan ternak bisa digunakan untuk kebutuhan tidak terduga. Kalau sewaktu-waktu membutuhkan cash money mendadak, Mbah Dariah bisa menjual ternaknya.
Ladang Mbah Dariah ditanami singkong. Tanahnya tidak bisa ditanami padi soale air sangat kurang disana. Udah tak ceritakan to kalo sumber air bergantung dengan belik di pinggir sungai belakang rumah Mbah Dariah. Mereka tidak bisa membuat sumur-sumur pribadi dari pekarangan. Mereka sudah mencoba membuat sumur tapi di kedalaman tertentu malah tidak keluar air. Tapi yang keluar malah Gas beracun. Mereka mengandalkan sumber air di pinggir sungai. Sumber air itu mencukupi satu dusun yang tidak bisa keluar air. airnya pun tidak bening.
Para perempuan ‘ngangsu’. Mengambil air dari sumber air, dulu ditaruh di kendi-kendi air besar dari tanah liat. Kalo jaman sekarang masih mengangkut air dari sumber mata air. Tapi diangkut dengan jerigen-jerigen besar ditaruh di punggung diangkut keatas. Ditampung ke dalam bak-bak di rumah mereka. Untuk memenuhi kebutuhan air keluarga. Masak dan mencuci piring. Pas ditempat Mbah Dariah kami pada ke belakang bantu-bantu cuci piring. Tapi dilarang sama istrinya pak sudianto, disuruh ke depan aja. Gak usah bantu. Kami tetep bengong di dapur, dan lebih bengong lagi ketika melihat cara mencuci piring. Mereka mencuci setumpuk tinggi piring, gelas dan peralatan makan lain hanya dengan satu ember hitam air. Irit air.
Kami kembali ke depan. Kelekaran di tikar pandan Mbah Dariah yang tidak laku dijual. Hujan hujan. Temen-temanku pada tidur. Aku duduk duduk bengong di balai-balai beranda rumah. Ditemeni Mbah Dariah dan dua anak pak sudianto yang sedang main malu-malu.
”Wah ada ayam cemani ya?’ gumamku.
Istri pak sudianto, aka menantu mbah Dariah, segera bergabung. Bukan katanya. Cemani itu ayam berwarna hitam polos. Biasanya digunakan untuk sesaji upacara, warga yang masih percaya sesembahan. Orang-orang kejawen masih percaya sesembahan ayam cemani. Segala tubuhnya berwarna hitam, ujung kaki dan semua bulu-bulunya. Ayam yang didepanku memang berwarna hitam semua bulu-bulunya. Tapi warna kulit kakinya kuning. Jadi bukan ayam cemani. Ayam blorok hitam ga bisa buat sesembahan, katanya. Ooh, kataku.
Mbah Dariah sibuk bercerita dan menunjukkan padaku di balik hujan. Disekitar pekarangan rumahnya ada pohon kenanga yang tumbang. Sebelum merapi datang beliau memanen bunga-bunga dengan alat khusus agar bunga tidak rusak jatuh ke tanah. Kadang dijual dengan sangat murah perkilo ke pasar. Ketela pohon yang baru bertunas daun-daunnya. Pohon pisang yang baru berbuah. Ayam-ayam bergabung dengan kami. Berkeliaran disekitar kaki-kaki kami. Anak-anak ayam. Induk ayam blorok yang berwarna hitam. Kami menunggu kerjabakti dimulai lagi, sebentar kemudian. Setelah hujan agak reda.


dikiit. sama2 berakhiran ah ah...izz-ah. dari-ah.hehehehe
Posted by: museum cerita | Dec 15, 2010 at 01:22 PM
weiii,
prasaan dariah dan izzah itu ga ada mirip2nya dueeehhhh.... :p
Posted by: Satvika | Dec 14, 2010 at 09:04 PM