Aku baru saja mencari sebuah kotak yang muat untuk kado. Aku mencari-cari dari bawah dipan, hingga aku menemukan kotak sepatu yang pas buat kotak kado. Sepertinya kosong, setelah kubuka, aku menemukan Tim Tam. Sebungkus Tim-tam, dengan sandwich coklat. Aku periksa tanggal kadaluarsanya, masih 020612. Aku ingat-ingat dari mana asalnya tim tam ini? Kok ada di kotak sepatu dan lupa tidak dimakan.
Ternyata eh ternyata, Tim-tam ini ada ceritanya. Sekaligus mengingatkan cerita tentang temenku dulu, namanya Gek i.
Gek i memiliki Kamar dengan wangi dupa, disalah satu sudutnya ada tempat sembahyang. Dalam wadah perak berisi tirte(air suci yang sudah diberi doa doa. Air dibawa khusus dari bali. Menurut Gek i, air itu berfungsi sebagai media penerima doa. Kalau temenku mengalami kejadian tidak biasa entah terlalu senang atau sedih, dia akan meminum tirte ini. Sebagai tanda syukur atau prihatin), banten atau canang sari sarana untuk beribadah(terbuat dari janur segi empat, di dalamnya ada bunga bunga tertentu/biasanya yang berbau harum dan irisan daun pandan) juga dalam gelas kecil sebagai wadah dupa yang telah dinyalakan.
Saat sembahyang, Gek i menjumput beberapa lembar bunga. Kemudian, tangannya berputar-putar seperti gerakan tarian dari kanan ke kiri. 180 derajat. Dia mengulangi gerakan itu beberapa kali sambil mengucapkan doa-doa. Diakhiri dengan melempar bunga ke wadah sesajian. Habis itu gerakan memutar tangan lagi (ngayab) tapi dalam asap-asap dupa. Tiga kali diulang. Aku biasanya mmelihatnya sambil tiduran ditempat tidur Gek i. Ia sembahyang menyamping, dari tempatku memandang, aku menatap sisi pundak/samping. asap-asap dupa kelihatan dari sisi itu. Kayaknya sih khusuk gitu. Temenku duduk tersungkur. Pandangannya menunduk atau memejamkan mata.
Dia ke pure setiap purnama kecuali pas datang bulan. Mengenakan baju kebaya atau baju yang dianggap paling oke. Aku melihatnya berdandan cantik, dengan kebaya putih Bali dan kain yang menyarungkan tubuh bagian bawah. Nanti dia akan dijemput temannya, si Gede, yang memakai baju tradisional bali juga.
Sudah menjadi tradisi, orang yang bersembahyang ke pure berarti memakai kebaya dan kain bagi si cewek dan baju yoko bali bagi yang cowok. Tidak ketinggalan udeng bali yang legendaris itu. Kata temenku bagi yang di Jawa, kalau ke pure ceweknya juga pakai kebaya dan cowoknya pake beskap dan blangkon(aku jadi ingat temenku yang hindu jawa, menolak ke pure karena harus memakai kebaya :P).
Selain bersembahyang ke pure tiap sebulan sekali, berdoa di pojokan kamar tiap hari, gek i juga berdoa di sepeda motornya seminggu sekali. Khusus untuk di motor, dia memohon keselamatan dari setiap perjalanan. Dia menaruh dupa dan sesembahan semampunya. Nah sesembahan ini seringkali berupa coklat, snack-snack ringan, beng-beng, oreo, tim-tam. Sesembahan ditaruh diatas banten, ditinggalkan disana setelah Gek i berdoa.
Motor Gek i diparkir dekat jendela kamarku, jadi aku selalu mencuri sesembahan Gek i. Ia memberi peringatan keras, aku baru boleh mengambilnya setelah dia meninggalkan banten selama tiga jam. Atau harus ada waktu saat sesembahan itu didiamkan ditempatnya tanpa diusik oleh glutony- glutony gentayangan di sekitar kos-kosan :D.
Kata Gek i waktu itu, lho itu kan haram bagi orang islam. Kok aku mau makan? Aku bilang: kata siapa? Dulu teman-temannya di asrama IPDN banyak yang muslim. Mereka tidak mau makan makanan sesembahan Gek i karena haram.
Yang mempersembahkan makanan itu kan kamu, bukan aku. Aku hanya tukang makan aja kan? kataku
Eh musyrik lho, kata Gek i
Aku ketawa-tawa, karena Gek i meledekku dengan konsep-konsep seperti itu.
“sookkkk tahuuuu...”kataku
Dia suka menyuruhku masuk hindu saja hanya karena aku suka menirukan gerakan ngayab seperti saat dia sembahyang.
Dan Tim Tam ini?
Sebenarnya, Tim Tam ini kusimpan karena aku mau menulis cerita. Tapi karena gak sempat-sempat hingga Gek i udah gak di kos lagi sekarang. Gek i telah menyelesaikan masternya, pulang ke Tabanan permai. Berkebun buah naga, apokat dan nanas jumbo manis. Dilain tempat, selama setahun ini, Tim Tam masih berada dalam kotak sepatu yang kutaruh dibawah ranjang. Aku melupakannya, hingga ditemukan. Aagh, wonderful.

Jadi begini(membayangkan awal 2011):
Setelah gebetan Gek i bilang kalo dia jadian dengan cewek dari universitas sebelah (sebenarnya universitas Atmajaya). Seminggu itu Gek i jadi merana, dia suka gelisah dan mengajakku keluar kos tanpa tujuan jelas dengan si Jupri(panggilan untuk motor Gek i). Malam-malam dia ngebut dijalanan keliling Jogjakarta dan ngelantur. Mampir membeli es krim dan strawberry float di Mc D.
Atau pergi ke mall untuk belanja sepatu dan buku.
Atau nongkrong di kafe coklat dekat gedung Muhammadiyah jalan Cik Di Tiro. Gek i memesan muffin lava chocolatos, yang ternyata berasa mengecewakan :D. Aku sempat ngicipin, roti muffinnya terlalu manis ditambah lagi lava coklat di dalamnya juga manis. Jadinya terlalu manis dan bikin eneg. Kami memfoto makanan yang tampaknya menarik itu. Saling memotret dari ujung yang lain. Gek i mengangkat cangkir di tangan kanan, sedangkan sendok coklat imut di tangan kiri, tersenyum sangat manis. Dia juga berpose dengan muffin coklat yang tampak menawan. Kemudian dia mengupload foto-foto itu ke fesbuk, dalam satu album khusus dengan judul: very grateful life.
Aku juga menaruh jempol pada gambar-gambar kami di kafe coklat. Walaupun aku berkomentar tentang muffin yang bikin eneg itu, toh komentarku tidak menampakkan kalau kunjungan kami ke kafe coklat waktu itu penuh duka nestapa :P
Kami berdua pulang larut setelah sebelumnya kami berpamitan kepada penjaga kos. Gek i nunut tidur di kamarku, tidur nempel tembok. Aku melihat punggungnya terguncang-guncang halus. Aku duduk di bawah, saat dia membalikkan badan dan mengambil tisu diatas meja.
Keesokan paginya, saat bangun, Gek i masih tidur. Aku ke kantor sangat pagi. Sewaktu aku mau melangkah dari pintu, Gek i bilang: Aku mau sembuh...........
Sembuh kenapa?
Keluar malam tidak jelas, kasihan si Jupri.
Aku tertawa saja. Batinku, ngelantur pasti. Daaghh
********
Sekitar jam sepuluh malam, kos-kosan sudah ditutup gerbangnya. Aku di depan leptop, saat aku mencium bau dupa dari jendela. Aku melongok dari jendela, ternyata Gek i sedang sembahyang. Banten dengan Tim Tam ini ditaruh di jok motor. Asap-asap dari dupa itu jadi tampak jelas dari kegelapan. Mungkin sekitar lima belas menit, Gek i berdiri menunduk di sana. Seperti mengheningkan cipta.
Setelah sembahyang, Gek i ke kamarku. Dia bercerita, kalau Jupri sudah kinclong, dia baru saja memandikan jupri di tempat cuci motor yang mahal di Jalan Monjali. Sekarang dia sedang menulis thesis bab IV, lumayan, seharian itu dia nambah lima halaman. Matanya berbinar-binar.
Ahhh. Padahal aku masih terlalu bombastis dengan melankoli patah hati tempo hari.
Tim Tam di atas Jupri buatku ya? kataku
Boleh, tapi baru boleh diambil besok pagi.
Tuhanmu udah bobok, jadi belum tahu kalau kamu kasih Tim Tam?
Itu sesembahan, pengorbanan buat Sang Hyang Widi
Trus?
Baru boleh diambil besok pagi
Katamu, didiamkan tiga jam saja. Trus boleh dimakan
Aku sudah tobat, kata Gek I sengit
*********************
Tanpa pamit lagi, keesokan paginya aku mengambil Tim Tam itu. Kumasukkan ke kotak sepatu, karena sepatu baru pagi itu kupakai buru-buru ke kantor. Tim Tam itu masih di sana, setahun kemudian.
Setelah kutemukan lagi, ahhhh bagaimana bisa ingatan terperangkap dalam sebungkus Tim Tam?
PS: aku sudah tetapkan, Tim Tam adalah sandwich coklat favoritku :D
Recent Comments